Showing posts with label journal. Show all posts
Showing posts with label journal. Show all posts

Sunday, August 25, 2019

Untitled

Dipunggungmu aku bersandar
melepaskan semua penat dan keluh kesah
menanamkan mimpi, menaruh harapan.
Di punggungmu aku bersandar
mencari kehangatan
menyelami kasih dan sayangmu.

Hanya dengan pelukan dapat kubalas semua itu
Pelukan yang kuharapkan bisa tenangkan hatimu
Dan menjadi tempat membuang semua cemasmu..

(Bandung, 25 August 2019)

Saturday, August 24, 2019

Fase Biru: Kumpulan Puisi (II)

(v)

Dalam diam hati kecilku berteriak
berharap gemanya dapat mengakhiri
kebisuan diantara kita ini

____________________________________________________________

(vi)

Mengagumimu bagai pisau bermata dua
mengakuinya bisa membunuh kita yang ada
tapi memendamnya pun menorehkan luka yang dalam di dada
Padahal bukan ku ingin memilikimu
Aku pun tak seegois itu
Ku hanya ingin kau tahu
dan mungkin juga ingin tahu
jika kau pernah merasakan hal yang sama


(Bandung, 23 Agustus 2019)

Fase Biru: Kumpulan Puisi (I)

(i)

Goresan demi goresan kutorehkan
Kata demi kata kurangkai
Detik demi detik terlalui
Tak terasa penuh sudah kertas putih ini
dengan curahan hati tak bersuara yang selama ini hanya kupendam
Suara yang ingin sekali saja kau dengarkan
dan tak pernah mengharapkan sebuah jawaban.

____________________________________________________________

(ii)

T'lah lama tak kurindukan pagi
Pagi yang kini kian mempertemukanku denganmu
Namun juga kurindu akan malam
Malam yang senantiasa membawa impian kita kan bersama disuatu masa
walau entah untuk berapa lama
walau entah dalam bentuk seperti apa

____________________________________________________________

(iii)

Dibawah remang lampu kuning ku menunggu
kehadiranmu yang tak mungkin datang
kehadiranmu yang bahkan tak pernah kau janjikan
Namun tetap disini ku menunggu
berharap adanya keajaiban bahwa kau akan datang
Atau bahkan sekedar keajaiban
kau menganggap aku ada..

____________________________________________________________

(iv)

Setumpuk pertanyaan muncuk di benakku
Mungkin akibat sikapmu terhadapku.
Salahkah aku yang terlanjur mengagumimu?
Toh, tak pernah ku berharap kau rasakan hal yang sama
Tak juga kuharapkan kau jadikanku yang teristimewa.
Yang ku inginkan hanyalah dibiarkan tenggelam menikmati rasa
Untuk intim,
dengan perasaanku sendiri
Yang kuingin, kita tetap seperti sedia kala
sebelum kau menjauh tanpa sepatah kata


(Bandung, 23 Agustus 2019)

Sunday, August 18, 2019

Spilling my heart out.

Been a while.
It's been a real while since the last time I write.
So forgive me if this is going to be boring, 'cause I assure you this writing will be quite long.

Just want to spill a little piece of my mind and heart to maybe ease myself.
Or maybe help someone, if this page even opened by anyone.
Or maybe, just maybe, it will even help myself.

So, here goes. a little confession. Though I might not seem like it, especially to those who are close to me, I am actually the most insecure person I know.

But not in a way most people feel. I genuinely and honestly don't care about what people think or say about me.
I really could care less about people's judgment, especially those who are not close to me.
And I believe those who I keep close to me, love me for the way I am. And I am highly confident about it, though may seem to be in contradiction with my previous statement.

Because eventually, what really matters to me is my own judgment.
No one, not in my almost 29 years of life, has ever set a higher standard than the one I set to myself.
I AM THE HARSHEST JUDGE OF MY SELF.

I don't like my general physical appearance.
My face is not attractive enough.
My body shape is not ideal.
Characteristically, I am not cute nor adorable,
or even slightly unique to stand out in a crowd.
I am not kind enough,
though I firmly believe in spreading kindness,
I know there's hatred inside.
I can't understand how someone could ever like me or even love me, for I myself don't feel so.

But I am also constantly reminded about the wonderful support system I have:
BESTFRIENDS,
Who accepts me for who I am.
Who understands my cold treatment and harsh words are my forms of affection.
Who sticks with me despite it all.
A LOVER,
Who loves me deeply with all his might.
Who adores me like I'm the most beautiful being in the universe.
Who believes in all my potentials even when I don't see it.
Who thinks of me as the sun of his sky.
And I do believe in every good thing they said.
I do believe in every feeling they have for me.
I really do believe that they really believe in whatever they think of me.
And I will always be eternally grateful for each of them.

But the problem never was how I feel about what people might say or think about me.
The problem was my own thinking.
I DON'T THINK I AM GOOD ENOUGH.

And it has always been a conflict in my head because, on the other hand, I am an overconfident woman.
There are things about me I'm highly proud of, things I will never let go.
And nothing people can say or do will make me change my mind.
No labels, names, assumptions or judgments from people can make me question myself.
Only I, myself, is able to do that.

I know most people will think the other way around: be happy and content with yourself, and nothing people say will make you feel bad about yourself.
Well, people can't do that to me, despite me not liking myself enough.
I sometimes think I know I am good enough for some, but still not good enough for me.

It has always been a daily struggle for me, to really accept myself.
It's a daily effort to try to see myself as my loved ones see me.
It's a hard and long battle to make me love myself.

Because I know that in the end, the view that matters the most is our own view.
The feeling that matters the most is our feelings.
The thought that impacts us the most is our own.
And happiness comes from within ourselves, not from anybody else.

So I've decided to try harder to accept myself for who I am.
To believe in the potentials I know I have.
To love myself like I have never loved anyone before.
I know it will not be easy, and only God knows how long it will take.
But I will never give up.
I would rather die trying to love being me than forever resent being born this way.
And I will hold my bestfriends tighter, my lover closer,
and remind myself that I am so loved by them.
One day, I will prove to myself that I am worthy of their love.
One day, I will prove to myself that I am worthy of self-praise.
One day, I will love myself fully without an ounce of doubt.
And I hope one day, whoever out there reading this and feels insecure about themselves, will also be able to accept ourselves for who we are.

Monday, September 23, 2013

Rasa Yang Tak Terwakilkan

Bila saja sanggup kata-kata mewakilkan arti hadirmu dalam hidupku.
Betapa kau mampu terangi lorong-lorong yang dulu gelap dalam labirin perjalananku
Betapa dengan mudah kini gunung kudaki, mengetahui kau sedang setia menanti

Bila saja megah semesta dapat mewakilkan arti hadirmu dalam hidupku.
Untuk menggambarkan betapa jernihnya kini langit yang selimuti bumiku dengan adanya kamu
Untuk melukiskan pelangi dan ribuan bintang penghias latarku,
mewakilkan tiap doa dan harapan yang kupanjatkan untukmu

Bila saja waktu dapat berjalan lebih lambat ketika kita sedang bersama memadu cinta.
Hingga mampu kusejukkan siangmu
Dan mampu kuhangatkan malammu selalu
Mampu kutunjukkan dalam tiap detik,
betapa kau berharga untukku..

Bila saja kau tahu
dna bila saja ku mampu.
Buatmu benar-benar mengerti, seperti apa rasa di dalam hatiku ini..


(Bandung, 09 Agustus 2013)

Thursday, May 30, 2013

Purnama Jogja

Kali ini jarak memang cukup jauh memisahkan
Kali ini sesekali sepi menghampiri meski banyak kawan menemani.
Sepi, karena dirimu tak disisi untuk berbagi tawa
Sepi, karena tak ada genggaman tanganmu yang senantiasa melindungi
Sepi, karena semilir angin pun diam-diam menghantar rindu darimu..
Tapi langit malam ini adalah penawarnya
penawar atas semua sepi
penawar dari rindu di hati.
Langit, yang dengan angkuhnya memamerkan anggun purnama
Langit malam yang cerah sempurna, membiarkan bintang berkelipan iringi silau rembulan.

Dan cukup untukku saat ini,
untuk mengetahui kita masih tetap menikmati purnama yang sama.
Purnama yang menenangkan hati,
ditengah riuh gerombolan turis yang menyambangi alun-alun Jogja malam ini..
Cukup untukku malam ini,
mengetahui kita masih saling merindu saat jarak memisahkan.
Dan tak bosan kupandangi sempurna purnama Jogja malam ini,
purnama yang sesekali memantulkan bayang wajahmu...

(Alun-alun Kidul Jogja, 24 Mei 2013)

Tuesday, May 21, 2013

Penantian Di Simpang Dago

Dipinggir jalan itu ku duduk menunggu
Di jalan, di persimpangan Dago.
Menunggu kemunculan lelaki berjenggot tipis, yang akan datang memenuhi janji.
Kupasang mataku ke setiap sudut jalan,
tak sabar menunggu kemunculannya.
Si lelaki berjenggot tipis dengan kemeja bututnya.
Hujan mengiringi penantianku senja ini,
menyembunyikan sinar malu-malu matahari yang beranjak pergi.

Langit mulai gelap,
namun di salah satu sudut jalan itu semua terlihat begitu terang.
Di sudut jalan itu di persimpangan Dago,
si lelaki berjenggot tipis itu muncul...
muncul menepati janjinya.


(Dago, 18 Desember 2012)

Friday, May 17, 2013

Yang Tak Bernama


Kita memang sepasang kekasih.
Tapi kita tidak 'pacaran', seperti banyak tebakan orang. Kita menolak untuk dibilang 'pacaran'  sebuah status yang dibuat masyarakat untuk sepasang insan manusia yang saling menyayangi dan memutuskan untuk saling berbagi.
Memang, nyatanya kita sedang saling berbagi...berbagi sedikit demi sedikit waktu yang ada di hidup kita, berbagi kisah dan menjalin cerita bersama, berjalan berdampingan, walau dalam jalur yang berbeda.
Ya, kita memang sepasang kekasih..

Kenapa kita begitu keras menolak dikatakan 'pacaran'?
Kamu dengan alasanmu, aku dengan alasanku.
Aku yang ingin belajar memberi, tanpa sedikitpun meminta.
Bahkan, tanpa sedikitpun berharap.
Aku yang sedang mempelajari, apa sesungguhnya 'cinta tanpa karena''Pacar' ku atau bukan, ketika aku mencintamu, aku tak butuh alasan.. dan aku tak butuh alasan juga untuk tetap mencintamu dan mencurahkan segala kasih sayang ini.
Aku tak butuh alasan. Dan tak ingin pula alasan itu muncul tanpa disengaja.
Karena menurut pengalamanku yang 'berpacaran' bertahun-tahun sebelum kita bersama, status 'pacar' itu justru memunculkan terlalu banyak alasan untuk memberi, dan mengharapkan timbal-balik.
Aku tak mau seperti itu (lagi)..
Aku mau tulus menyayangimu, tak peduli status kita, bahkan aku akan tetap menyayangimu meski kamu anggap aku tak ada.

Dan kamu tak ingin terikat. Sama seperti aku yang tak mau diikat.
Kita tak ingin diatur bagaimana cara kita saling menyayangi.
Ada yang bilang kita ini takut komitmen.. tapi mereka tidak tahu, kita pun saat ini masing-masing sedang menjalani sebuah komitmen.
Kamu dengan komitmenmu dengan rasamu,
dan aku dengan komitmenku dengan rasaku..
Kita akhirnya saling mengikat dengan satu yang begitu kita senangi, kebebasan.

Aku bebas menyayangimu dengan caraku.
Kamu pun bebas menyayangiku dengan caramu.
Berjalan ke arah yang sama, akhirnya kita sepakat untuk berjalan berdampingan, meski kita tetap berada di jalur yang berbeda.
Dan meski kita tak tahu dimana persimpangan yang akan memisahkan kita..

Kita memang sepasang kekasih. Kita adalah life partner. Pasangan hidup. Karena saat ini, detik ini di hidupku, kamu menemaniku. Dan saat ini, detik ini, aku pun mengisi hidupmu.
Tapi kita tidak 'pacaran'. Kita menolak disebut 'pacaran'.

Lalu apa namanya hubungan ini?
Ah, menurutku manusia belum sanggup berikan hubungan ini nama...apa perlunya pula sebuah nama?
Toh kita menikmati menjalaninya.
Toh kita tetap saling mencinta.
Dan toh, kesepakatan itu tetap kekal detik ini...

(Bandung, 17 Mei 2013)

Friday, May 3, 2013

Noda Samar Dalam Cahayaku

Hitam di langit pagiku tak perlu kau tahu sebabnya.
Malah, ku usahakan agar kau tak perlu melihatnya sama sekali..
kau tak perlu tahu ia bahkan ada.
Cukup kau lihat, indah sinar mentariku.

Bukan ku tak mau berbagi warnaku padamu, bukan ku tak percaya kau akan mengerti.
Aku hanya ingin kau tak ingkari hangatnya mentari pagi
Aku hanya ingin kau selalu dapat nikmati indah biru langitku
Indah dan tentramnya duniaku, yang mungkin akan hapuskan gelap duniamu.

Jadi tak perlu kau tahu, noda yang mengotori cantiknya alamku.
Karena tugasku, inginku, butuhku, adalah untuk indahkan duniamu selalu
bahkan ketika tak ada setitikpun warna tersisa didalamnya...

(Bandung, 1 May 2013)

Manusia dan Pikirannya

Aku ini manusia
manusia berakal sehat dan memiliki pikiran.
Pikiran yang bebas, yang berlayar tanpa batas, sesukanya.
Aku ini bebas.
Kalau aku tak bebas, kenapa akal ini kumiliki untuk jalani hidup?
Kalau nyatanya aku terikat pada sebuah pasak, kenapa aku harus belajar berjalan?
Hanya untuk mencapai tujuan tertentu yang makhluk lain inginkan untukku?
Sampah.
Kalau begitu aku ini seperti sampah. Diletakkan disana-sini untuk akhirnya berakhir di pembuangan yang orang tuju.
Hanya bisa diam, tak bisa menolak.
Jika memang begitu, kenapa aku tidak usah diberi kehidupan saja sekalian?
Hidup tapi penuh harapan palsu,
diarahkan sesuka yang makhluk itu mau.
Tapi aku tak sebodoh itu..
Kan sudah kubilang, aku ini manusia?
Manusia yang berakal pikiran nan bebas.
Coba saja kalau kau mau mengikatku,
aku pun mau tahu,
seberapa lama rantai dambaanmu itu mampu menahanku.

(Bandung, 01 May 2013)

Karena Kekekalan Hanya Milik Detik Ini

Semakin hari, semakin banyak yang saya alami, semakin banyak yang saya pelajari, saya mulai memahami betapa di dunia ini tiada yang pasti. Mungkin beberapa penganut agama atau kepercayaan apapun yang kuat akan membantahnya, dan mengatakan bahwa beberapa hal telah dengan pasti tertulis oleh Tuhan dalam suratan hidup manusia, dan pasti terjadi. Disini saya tidak akan menyalahkan pendapat orang lain dan membenarkan pendapat saya, saya hanya ingin mengatakan, tidak demikian yang saya percayai...

Hari demi hari, saya sedikit demi sedikit belajar untuk semakin menghargai waktu. Saya belajar untuk menjalani hidup saya sebaik mungkin, seakan tidak ada esok hari. Bukan berarti saya lalu boleh sesuka hati melakukan yang saya mau tanpa memperdulikan orang - orang di sekitar saya terutama orang - orang yang saya sayangi, tapi justru saya harus belajar lebih menghargai mereka, menyayangi mereka segenap hati, menjaga mereka, dan selalu berusaha membagi kasih sayang saya agar mereka tahu betapa mereka sangat disayangi. Karena belum tentu ada esok hari, yang akan mempersilahkan saya melakukan apa yang belum sempat atau belum mau saya lakukan hari ini.

Tak ada jaminan akan esok hari tiba untuk saya, atau orang - orang yang saya sayangi. Tak ada jaminan pula rasa sayang saya untuk mereka ini masih bersisa esok nanti. Jadi sebelum waktu mengkhianati, sebelum rasa hilang tak berbekas di hati, saya ingin mencurahkan segalanya saat ini, detik ini. Detik yang kusebut kekal ini. Ini mungkin keegoisan terbesar saya..

Begitu banyak hal yang sangat indah yang terjadi setiap harinya di dalam hidup saya. Kecil, besar, bukan sesuatu yang penting. Bila itu indah, ya tetap indah. Memang, terkadang saking indahnya, saya seakan tidak mau melepaskan hal tersebut.. saya ingin terus mengalaminya, menjalaninya, hanyut di dalamnya. Lalu saya teringat, hanyut dalam kenangan? Berarti saya tak punya pegangan? Bagaimana kalau nanti saya lelah terapung-apung dalam kenangan yang telah lalu, kemana saya harus menyelamatkan diri? Saya pun masih sering menyadarkan diri, berteriak dalam kepala yang semrawut ini, "Hey, jangan larut pada apa yang pasti lalu! Bahkan yang saat ini merupakan yang terindah, belum tentu akan selamanya menjadi yang paling. Akan ada satu titik dimana mau tak mau predikat itu harus kau lepas! Yah, kecuali kau mati di detik berikutnya.."

Ya, yang saat ini adalah yang 'ter-' belum tentu akan menjadi yang 'ter-' lagi di hari berikutnya, jam berikutnya, bahkan mungkin detik berikutnya. Kenangan, memang abadi, disaat ia sedang terjadi, di detik yang kusebut kekal ini. Tapi... detik berikutnya akan tiba. Menit pun berlalu. Dan kenangan akan menjadi kenangan.

Dari berbagai hal yang saya ocehkan sesuka hati diatas, saya hanya berusaha mengambil kesimpulan, lakukan apa yang kamu mau dan bisa lakukan hari ini, saat ini, jangan sampai menyesal di keesokan hari yang bahkan belum tentu datang. Dan tiap kenangan, tiap kejadian, baik indah maupun buruknya, nikmatilah. Karena tanpa ada yang buruk itu, kita tak akan tahu rasanya indah. Dan tanpa ada yang indah, kita tak akan tahu ada cahaya di setiap ujung lorong. Hargai tiap moment, karena mereka hanya kekal ketika terjadinya. Hargai yang telah menjadi kenangan, karena mereka telah menuntun kita untuk berada di tempat kita sekarang...

Tuesday, April 16, 2013

Kencan Mentari dan Langit

Sore hari ketika langit berkencan dengan matahari,
bercengkrama mencipta kecerahan yang menyelimuti bumi
Dedaunan kuning menari-nari riang mengiringi desiran sejuk angin yang lewat sesekali.
Hamparan putih awan layak berkejaran kesana kemari
menikmati kesempatan memiliki langit biru yang jarang terlihat belakangan ini,
memiliki langit biru sebagai latar untuk dihiasi.

Semakin erat langit bercengkrama dengan mentari
memancarkan sinar yang kadang begitu terik, yang dikulit terasa menyelekit.
Tercium sekelibat harum buah persik,
terdengar pula dentingan pisau dan garpu yang berisik.
Lalu langit mulai gelap.. dan turun hujan rintik
Menandakan akhir kencan matahari dan langit.
Setidaknya untuk sore ini…

(Dago, 2 Januari 2013)

Sunday, December 30, 2012

Canda Sunyi Samudera

Kubiarkan pasir putih masuki sela jari-jari kakiku
kudiamkan buih ombak jahil menggelitik
kusandarkan punggung lelahku pada hangatnya pasir putih.
Terbuai aku oleh sepoi angin
Tersihir aku oleh deburan ombak
Terhipnotis aku oleh semburat indah matahari senja.

Laut yang luas didepan mata, diam tak bersuara
seakan tak ada yang dapat mengusiknya..
Hanya sesekali angin datang menggoda, menggelitik, mengajaknya bermain
Seperti bocah kecil, laut pun bergerak mengikuti
seirama dengan angin yang jahil.
Mereka berdansa bersama seakan tak ada yang mampu mengusiknya
Dan aku terpana, mengamati..


27 September 2012

Perangkap Semu

Terhentak lalu ku terbangun.
Ku coba membuka mata, namun hanya kegelapan yang ada
Terdengar suara tawa bahagia.
Tunggu...itu suaraku!
Tapi disini ku tak tertawa.. disini ku diam tak bergerak.
Lalu darimana datangnya suara itu?
Kemudian ku dengar suara tangis,
tangisanku.
Darimana datangnya tangis itu?
Tiba-tiba kurasakan amarah yang meledak.
Amarahku.
Darimana munculnya amarah itu?

Bagaimana bisa ku mendengar sendiri emosiku, ketika aku sendiri tak tahu dimanakah aku? Bagaimana caranya ku keluar? Kemanakah ku harus melangkah?
Aku tak peduli...ku kan terus berlari
berlari berusaha keluar dari sini.
Namun, tak adakah yang mau menuntunku?


Bandung, 21 September 2012

Friday, December 28, 2012

Kisah Penutup Tahun

Menjelang akhir tahun, tidak terasa.. hmm, sebenarnya sih tidak juga. Beberapa bulan belakangan semua memang terasa berjalan begitu cepat, namun ada juga beberapa bagian yang terasa berjalan amat lambat, yang membuat saya tersiksa sepanjang harinya, ingin hari-hari itu cepat berlalu. Hari-hari yang dulu saya pandang sulit, seperti tak ada akhirnya. Tapi, semua memiliki akhir.. Sama seperti tahun ini, 2012, yang akan berakhir besok.

Bisa dibilang, selama 22 tahun saya hidup di dunia ini, tahun ini merupakan tahun yang amat penuh pembelajaran dan pengalaman, serta merupakan salah satu tahun tersulit namun juga terindah yang pernah saya lalui.

Pada pertengahan tahun, dimulai proses pembelajaran itu. Muncul satu sosok yang begitu saya kagumi, sosok yang lebih berbeda dibanding siapapun yang pernah saya kenal. Yang memancing saya untuk belajar lagi, dan terus belajar.. Tanpa perlu ia mendoktrin saya, ia memancing keluar semua isi otak ini yang dulu saya sembunyikan rapat-rapat. Dia juga mengajari saya banyak hal, hal-hal yang dahulu sulit untuk saya lakukan, bahkan untuk saya pikirkan..

Dipertengahan tahun juga, saya ditinggal salah satu sahabat terbaik saya ke Ibukota untuk mencari nafkah, karena ia telah menyelesaikan pendidikannya di kampus kami, dan telah memasuki jenjang berikutnya: menjadi pekerja. Sangat sulit ditinggal olehnya, karena dia merupakan salah satu orang yang selalu bisa mendengarkan celoteh saya, apapun itu. Yang selalu siap sedia menemani saya, yang selalu mampu menghibur saya. Salah satu orang yang paling saya percayai.. Yah meskipun Bandung-Jakarta itu dekat, tapi pada awalnya sulit menerima kenyataan bahwa saya tidak bisa menemui dia setiap hari lagi.

Dan kemudian, datanglah masa-masa tersulit. Masa yang begitu menyiksa, bukan hanya saya, namun juga orang disekitar saya.. Terutama mantan kekasih saya, yang sampai beberapa bulan yang lalu masih menjadi kekasih saya. Pria yang ada disisi saya setiap saat, yang terkena dampak paling besar atas perubahan yang terjadi pada saya dalam waktu amat singkat.

Dimulai dari munculnya sosok yang saya sebut pertama kali tadi, sosok yang saya kagumi dan membuat saya haus untuk terus belajar. Sosok yang akhirnya membuat saya jatuh hati...disaat saya masih berkomitmen dengan kekasih saya saat itu. Ironis. Karena saya yang dulu adalah saya yang sangat skeptis dan benci menduakan, apalagi menduakan hati. Hingga akhirnya, saat itu, saya membenci diri saya sendiri.. Sampai saya sadar, saya tidak mendua hati. Ternyata entah sejak kapan, saya tidak lagi merasakan cinta seperti yang dulu saya rasakan terhadap kekasih saya saat itu.

Hingga pada akhirnya kami mengalami 2 bulan tersulit dalam masa kami berpacaran selama 5,5 tahun. Betapa banyak perubahan saya yang begitu cepat yang membuat kekasih saya saat itu kaget, betapa banyak pemikiran saya yang dahulu saya coba sembunyikan dan akhirnya ia tahu, dan betapa ia berusaha sekuat tenaga untuk merebut hati saya kembali.. Namun ternyata, memang sudah disitu akhirnya. Akhir dari hubungan kami, akhir dari cerita cinta yang telah lama kami tulis bersama. Hati ini tidak bisa dibohongi. Dan pada akhirnya, saya terlalu lelah untuk membohongi hati saya sendiri..

Sulit, melihat orang yang begitu mencintai saya dengan segenap hatinya harus terluka karena saya. Tapi akan lebih sulit untuk saya, jika saya terus memaksa dan tidak jujur akan perasaan saya. Saya yakin, saat itu hingga saat ini, bahwa yang terbaik untuk dia, untuk saya, untuk kami, adalah berpisah.

Lalu dimulailah hidup saya yang baru...yang benar-benar berbeda dari 6 tahun belakangan.
Sosok itu, selalu ada. Membimbing, menemani, mengajarkan. Ia mengajarkan saya betapa pentingnya menghargai diri sendiri, menghargai orang lain. Ia membuat saya ingin membuka diri saya seutuhnya, diri yang dulu saya anggap hina, namun ternyata begitu luar biasa.

Saya menjadi lebih berani menjadi diri saya apa adanya, tanpa harus menyakiti orang sekitar. Saya lebih berani melangkah, melangkah untuk diri sendiri, karena saya tahu bahwa perjalanan hidup saya, hanya sayalah yang menjalankan. Sosok itu, sosok yang tidak menyadari betapa luar biasanya ia di mata saya..

Jujur, kini, saya merasa lebih ringan melangkah. Lebih lega bernafas. Lebih leluasa berpikir. Saya tidak pernah merasa senyaman ini terhadap diri saya sendiri. Tidak pernah begitu bersyukur terhadap diri saya, hidup saya, dan orang-orang di sekitar saya. Termasuk mereka di masa lalu saya.

Dan dia, sosok yang kini menjadi pendamping hidup saya saat ini (bukan pacar, tetapi pendamping), adalah sosok yang cukup besar andilnya dalam membantu saya menjadi saya yang sekarang. Sosok yang saat ini, detik ini, begitu saya cintai. Dan untuk tahun ini, kehadirannya di hidup saya adalah yang paling saya syukuri..

Dan untuk harapan tahun depan. Hmm, saya sudah mulai belajar untuk tidak menaruh harapan apapun, kecuali mungkin untuk diri saya sendiri.. Saya hanya berharap, saya tidak akan pernah berhenti belajar dan tidak pernah berhenti jujur pada diri sendiri. Untuk sisanya? Biarkan hari esok selalu menjadi misteri yang menyenangkan, yang membuat saya bangun tiap paginya dengan bersemangat untuk memecahkan misteri tersebut :)

Terima kasih, tahun penuh pembelajaran.
Dan terima kasih, Pria 2012..saya cinta kamu saat ini.


Have a great holiday, all, and a wonderful New Year! :)

Monday, December 24, 2012

Goresan Rindu

Aku rindu.
Rindu yang tak terkira, yang bahkan seluruh bintang di angkasa tak sanggup mewakilkannya.
Rindu hangat kehadiranmu, namun justru dingin malam menyelimutiku.. rindu hingar bingar suaramu, karena kini yang terdengar hanya nyanyian sendu serangga.
Nyanyian sendu yang menyayat hati seperti rindu ini.


Aaahh.. apa gerangan yang sedang kau mimpikan saat ini, kasih?
Ada kah bayang wajahku hiasi bunga tidurmu? Atau aromaku, yang mungkin dapat menenangkanmu? Atau mungkin hanya sekedar namaku kau sebut. .dalam ceritamu untuk Tuhan hari ini?
Yang ku tahu pasti, hati ini penuh oleh cinta untukmu, otak ini riuh oleh teriakan yang tak henti menyerukan namamu, dan senyum yang mengembang terus menerus hanya dengan membayangkan wajahmu.. bahkan indah, rasa menyiksa di dada ini akibat merindukanmu.

Aku tak sabar menunggu kehadiran burung pagi nanti, untuk sampaikan rinduku padamu, dan berharap ia akan terbang menghampirimu, menyuarakan kicauan rindu itu.

Sungguh aku rindu, kasih..


Jakarta, 24 Desember 2012

Saturday, December 22, 2012

Malam Tujuhbelas Desember

Malam ini, di Tujuhbelas Desember
dihiasi sinar lampu remang-remang, ditengah keheningan ruangan kubus berpintu ini.
Kita berbaring, berdua. .bercinta dalam kesunyian.

Kau tatap lekat mataku dengan mata tajammu.
Kau sentuh wajahku, perlahan...
Kau pejamkan matamu, dan larut pada suasana. Menikmati setiap ujung jarimu menyentuh tiap titik di wajahku.
Aku pun pejamkan mataku, tenggelam dalam panas sentuhanmu.
Menikmati tiap detik, menikmati tiap belaian.

Perlahan kau sentuh bibirku dengan bibirmu
Lembut, hangat, basah...sungguh rasa yang memabukkan.
Dunia seakan berhenti berputar, jam tanganmu pun sunyi seperti berhenti berdetak.
Kecupan manis yang begitu panjang, hanya ditemani degup jantung kita yang tak mau melambat.

Lambat, semua terasa berjalan begitu lambat, tak seperti degup jantung ini.
Dapat kurasakan manis tiap senti dari bibirmu, geli dan tajam dari tiap helai kumismu, dan hangat dari tiap hembusan nafasmu..
Indah.

Perlahan kau jauhkan bibirmu dari bibirku yang seakan tak mau lepas.
Kau tatap lekat lagi mataku, dan perlahan kau bisikkan
"Sekali lagi, selamat ulang tahun, sayang.."
Setetes air mata keluar perlahan dari sudut mataku.
Air mata yang turut menikmati,
saat kita bercinta dalam kesunyian...


(17 Desember 2012, 22.15)

Sebatang rokok dalam bungkusan merah


Aku hanyalah sebatang rokok.
Rokok filter yang berharga mungkin untukmu, namun merupakan sebuah racun berbentuk silinder mungkin untuknya.
Aku bukanlah barang berharga tinggi, apalagi langka
bukan kawan yang dapat menemani semalam suntuk, malah mungkin telah habis kau hisap saat cerita ini selesai kusampaikan..
Aku hanyalah sebatang rokok filter,
satu dari begitu banyak batang yang membuatmu candu.
Hisapan demi hisapan, yang kau pikir dapat menginspirasi.
Fana. . .
Aku hanyalah sebuah bentuk fana, sebuah gulungan tembakau biasa saja yang mungkin kau anggap bermakna, meski sekejap saja.
Aku sebatang rokok filter.
Yang dengan umur pendekku ini, kukerahkan segala kemampuanku hanya agar jari telunjuk dan jari tengahmu tak merasa sepi...

Aku sebatang rokok filter,
yang akan mati seselesainya kau tulis ceritaku ini.

Saturday, December 15, 2012

Akhir Sebuah Cerita Cinta

Telah lama cerita cinta itu kami jalin, telah lama hubungan itu kami rajut.. namun layaknya semua cerita, kami pun sampai pada ujungnya, beberapa bulan yang lalu.

Lima tahun lima bulan sebelas hari.
Selama itu kami bersama, menjalani hidup berdampingan, saling mengasihi. Dulu, kupikir ini adalah cerita yang hanya akan diakhiri oleh kematian. Cinta yang akan aku bawa sampai mati. Dulu, ketika aku masih naif, ketika aku begitu jumawa akan kemampuanku mencintai.

Kata demi kata, tindakan demi tindakan, hari demi hari. Begitu banyak kesalahan yang kami lakukan, yang merusak perasaan di hati ini diam-diam, tanpa aku sadari.. yaa, kesalahan yang membunuh cintaku untuknya. Aku tak menyalahkannya, tak akan pernah. Karena aku pun bersalah dalam hal ini, aku pun turut membantu membunuh perasaanku sendiri secara perlahan. Namun tanpa kami sadari..

Hingga akhirnya, hal demi hal yang kami lalui di akhir cerita ini, menyadarkanku tentang keadaan hatiku. Hati yang sebelumnya menyerukan namanya setiap saat, kini telah tiada. Binasa. Dan kami pun perlahan menyadari, cerita ini hampir sampai pada ujungnya. Tak peduli apapun yang kami lakukan untuk memperbaiki keadaan ini, untuk menghidupkan kembali hati penuh cinta untuknya yang telah mati ini, semua tak mampu mengubahnya.

Ya, hati untuknya itu telah mati... karena kami sendiri.
Dan yang telah mati, tak akan bisa dihidupkan kembali, setidaknya mungkin untuk saat ini.

Namun aku sangat bersyukur pada Tuhan, telah memberikan kami kesempatan untuk menciptakan cerita cinta yang begitu panjang dan indah ini. Aku bersyukur pada Tuhan, aku diberi kesempatan untuk mencintai sedalam itu. Aku juga bersyukur pada Tuhan, karena kami telah diberi jalan yang terbaik untuk kami masing-masing. Ya, masing-masing, bukan berdampingan lagi.

Dan, aku bersyukur kepada Tuhan untuk kamu, lelaki yang pernah mengisi hidupku sekian lama..
Lelaki yang dulu selalu ada disisiku, di baik dan buruk ku.
Maaf, jika aku bukan lagi sosok wanita yang dulu begitu kau puja, kau cinta. Tetapi aku yakin, suatu saat, yang terbaik untukmu akan datang..
Aku berharap Tuhan memberimu kekuatan dan keberkatan selalu, dan tak membiarkanmu merasakan setitikpun kesedihan. Karena kau adalah sosok yang telah membantu membentukku menjadi diriku yang sekarang. Diri yang kini dapat kubanggakan.

Berbahagialah, kekasih yang telah lalu..
Aku pernah amat mencintaimu, dan meski hati itu telah binasa, kau tetap salah satu lelaki luar biasa di mataku.

Ini... mungkin akhir dari sebuah cerita cinta.
Tapi yakinlah, ini hanyalah akhir sebuah chapter di hidup kita masing-masing. Jadi, mari kita melanjutkan kisah hidup kita masing-masing, meski kini tak lagi bersama.

Terima kasih! :)

Sunday, October 21, 2012

Lelaki Bermata Sendu

Lelaki bermata sendu, duduk diam termangu.
Entah berapa lama ia telah menunggu
entah harus berapa lama lagi ia akan menunggu.
Menunggu kembalinya kekasih hati
yang pergi membawa seluruh hatinya,
utuh. .
Utuh diberikan Lelaki bermata sendu itu.
Tulus, untuk kekasih hatinya,
Sang Gadis Matahari.
Yang pergi membawa sinarnya,
meninggalkan Lelaki bermata sendu dalam kegelapan
Gelap yang pekat, abadi, dan dingin..

Lelaki bermata sendu,
dengan penuh harap menanti kembalinya sang Gadis Matahari
Kembali dengan sinarnya,
kembali dengan hatinya,
kembali dengan kesiapannya untuk menghangati si Lelaki bermata sendu. . .
Hanya dia.


18 Oktober 2012