Showing posts with label love. Show all posts
Showing posts with label love. Show all posts

Sunday, August 25, 2019

Untitled

Dipunggungmu aku bersandar
melepaskan semua penat dan keluh kesah
menanamkan mimpi, menaruh harapan.
Di punggungmu aku bersandar
mencari kehangatan
menyelami kasih dan sayangmu.

Hanya dengan pelukan dapat kubalas semua itu
Pelukan yang kuharapkan bisa tenangkan hatimu
Dan menjadi tempat membuang semua cemasmu..

(Bandung, 25 August 2019)

Saturday, August 24, 2019

Fase Biru: Kumpulan Puisi (II)

(v)

Dalam diam hati kecilku berteriak
berharap gemanya dapat mengakhiri
kebisuan diantara kita ini

____________________________________________________________

(vi)

Mengagumimu bagai pisau bermata dua
mengakuinya bisa membunuh kita yang ada
tapi memendamnya pun menorehkan luka yang dalam di dada
Padahal bukan ku ingin memilikimu
Aku pun tak seegois itu
Ku hanya ingin kau tahu
dan mungkin juga ingin tahu
jika kau pernah merasakan hal yang sama


(Bandung, 23 Agustus 2019)

Fase Biru: Kumpulan Puisi (I)

(i)

Goresan demi goresan kutorehkan
Kata demi kata kurangkai
Detik demi detik terlalui
Tak terasa penuh sudah kertas putih ini
dengan curahan hati tak bersuara yang selama ini hanya kupendam
Suara yang ingin sekali saja kau dengarkan
dan tak pernah mengharapkan sebuah jawaban.

____________________________________________________________

(ii)

T'lah lama tak kurindukan pagi
Pagi yang kini kian mempertemukanku denganmu
Namun juga kurindu akan malam
Malam yang senantiasa membawa impian kita kan bersama disuatu masa
walau entah untuk berapa lama
walau entah dalam bentuk seperti apa

____________________________________________________________

(iii)

Dibawah remang lampu kuning ku menunggu
kehadiranmu yang tak mungkin datang
kehadiranmu yang bahkan tak pernah kau janjikan
Namun tetap disini ku menunggu
berharap adanya keajaiban bahwa kau akan datang
Atau bahkan sekedar keajaiban
kau menganggap aku ada..

____________________________________________________________

(iv)

Setumpuk pertanyaan muncuk di benakku
Mungkin akibat sikapmu terhadapku.
Salahkah aku yang terlanjur mengagumimu?
Toh, tak pernah ku berharap kau rasakan hal yang sama
Tak juga kuharapkan kau jadikanku yang teristimewa.
Yang ku inginkan hanyalah dibiarkan tenggelam menikmati rasa
Untuk intim,
dengan perasaanku sendiri
Yang kuingin, kita tetap seperti sedia kala
sebelum kau menjauh tanpa sepatah kata


(Bandung, 23 Agustus 2019)

Monday, September 23, 2013

Rasa Yang Tak Terwakilkan

Bila saja sanggup kata-kata mewakilkan arti hadirmu dalam hidupku.
Betapa kau mampu terangi lorong-lorong yang dulu gelap dalam labirin perjalananku
Betapa dengan mudah kini gunung kudaki, mengetahui kau sedang setia menanti

Bila saja megah semesta dapat mewakilkan arti hadirmu dalam hidupku.
Untuk menggambarkan betapa jernihnya kini langit yang selimuti bumiku dengan adanya kamu
Untuk melukiskan pelangi dan ribuan bintang penghias latarku,
mewakilkan tiap doa dan harapan yang kupanjatkan untukmu

Bila saja waktu dapat berjalan lebih lambat ketika kita sedang bersama memadu cinta.
Hingga mampu kusejukkan siangmu
Dan mampu kuhangatkan malammu selalu
Mampu kutunjukkan dalam tiap detik,
betapa kau berharga untukku..

Bila saja kau tahu
dna bila saja ku mampu.
Buatmu benar-benar mengerti, seperti apa rasa di dalam hatiku ini..


(Bandung, 09 Agustus 2013)

Thursday, May 30, 2013

Doa Dalam Hujan

Surya telah terbenam di balik megah Borobudur.
Perlahan rintik hujan jatuh beraturan membasahi pelataran
membanjiri altar megah yang telah lama dipersiapkan untuk pemanjatan doa.
Namun para umat tetap khusyuk beribadah
menyampaikan ribuan cerita dan harapan kepada sang hyang Buddha.

Puluhan ribu pengunjung tak sabar menanti,
menanti api harapan di terbangkan bersamaan, yang akan menerangi langit malam itu.
Banyak dari mereka yang akhirnya mengutuk hujan,
mengutuk penyebab gagalnya perayaan pelepas api harapan.
Tapi sepasang insan tetap setia menanti, duduk merenung di bawah hujan
Bergandengan tangan, menikmati malam
Mereka memanjatkan doa, menyampaikan kisah mereka pada Yang Kuasa.
Berharap didengar, berharap terkabulkan doanya

Si perempuan menoleh ke pasangannya,
yang memegangnya erat menjaganya dari dingin angin malam
Si perempuan lalu berkata, "Mereka bilang malam ini tak akan ada api harapan yang akan terbang menyampaikan doa, tak ada cahaya lampion yang hiasi gelap langit. Tapi untukku, malam ini telah begitu cerah karena hadirmu disini, menemani. Tak inginkah kau tahu isi doaku?"
Si lelaki lalu menatap lekat wajah perempuan yang dikasihinya itu
ia tersenyum kecil melihatnya,
wanita bertubuh mungil yang gemetaran akibat bermandikan air hujan.
Ia berkata kepadanya, "Tak perlu kau katakan. Aku hanya berharap doaku di Malam Natal yang lalu sama seperti harapan yang kau panjatkan malam ini. Dan aku berharap, aku masih menggenggam tanganmu di Malam Natal berikutnya, dan mungkin tetap berdampingan dibawah hujan di Waisak berikutnya"

Mereka lalu berdekapan. Saling menghangatkan di tengah ramai lalu lalang pengunjung yang kecewa.
Namun damai memenuhi hati mereka, dan kasih senantiasa menyinari malam gelap Waisak di Borobudur.
Sambil masih bergandengan tangan, mereka pun turuni candi
meyakini dalam hati, tak peduli meski mereka berdua beribadah dengan cara berbeda dan tak mengagungkan nama Tuhan yang sama,
mereka telah ditakdirkan untuk berdoa berdampingan,
saling menemani,
dan tetap larut dalam satu cinta..


(Jogja, 26 Mei 2013)

Purnama Jogja

Kali ini jarak memang cukup jauh memisahkan
Kali ini sesekali sepi menghampiri meski banyak kawan menemani.
Sepi, karena dirimu tak disisi untuk berbagi tawa
Sepi, karena tak ada genggaman tanganmu yang senantiasa melindungi
Sepi, karena semilir angin pun diam-diam menghantar rindu darimu..
Tapi langit malam ini adalah penawarnya
penawar atas semua sepi
penawar dari rindu di hati.
Langit, yang dengan angkuhnya memamerkan anggun purnama
Langit malam yang cerah sempurna, membiarkan bintang berkelipan iringi silau rembulan.

Dan cukup untukku saat ini,
untuk mengetahui kita masih tetap menikmati purnama yang sama.
Purnama yang menenangkan hati,
ditengah riuh gerombolan turis yang menyambangi alun-alun Jogja malam ini..
Cukup untukku malam ini,
mengetahui kita masih saling merindu saat jarak memisahkan.
Dan tak bosan kupandangi sempurna purnama Jogja malam ini,
purnama yang sesekali memantulkan bayang wajahmu...

(Alun-alun Kidul Jogja, 24 Mei 2013)

Tuesday, May 21, 2013

Penantian Di Simpang Dago

Dipinggir jalan itu ku duduk menunggu
Di jalan, di persimpangan Dago.
Menunggu kemunculan lelaki berjenggot tipis, yang akan datang memenuhi janji.
Kupasang mataku ke setiap sudut jalan,
tak sabar menunggu kemunculannya.
Si lelaki berjenggot tipis dengan kemeja bututnya.
Hujan mengiringi penantianku senja ini,
menyembunyikan sinar malu-malu matahari yang beranjak pergi.

Langit mulai gelap,
namun di salah satu sudut jalan itu semua terlihat begitu terang.
Di sudut jalan itu di persimpangan Dago,
si lelaki berjenggot tipis itu muncul...
muncul menepati janjinya.


(Dago, 18 Desember 2012)

Friday, May 17, 2013

Yang Tak Bernama


Kita memang sepasang kekasih.
Tapi kita tidak 'pacaran', seperti banyak tebakan orang. Kita menolak untuk dibilang 'pacaran'  sebuah status yang dibuat masyarakat untuk sepasang insan manusia yang saling menyayangi dan memutuskan untuk saling berbagi.
Memang, nyatanya kita sedang saling berbagi...berbagi sedikit demi sedikit waktu yang ada di hidup kita, berbagi kisah dan menjalin cerita bersama, berjalan berdampingan, walau dalam jalur yang berbeda.
Ya, kita memang sepasang kekasih..

Kenapa kita begitu keras menolak dikatakan 'pacaran'?
Kamu dengan alasanmu, aku dengan alasanku.
Aku yang ingin belajar memberi, tanpa sedikitpun meminta.
Bahkan, tanpa sedikitpun berharap.
Aku yang sedang mempelajari, apa sesungguhnya 'cinta tanpa karena''Pacar' ku atau bukan, ketika aku mencintamu, aku tak butuh alasan.. dan aku tak butuh alasan juga untuk tetap mencintamu dan mencurahkan segala kasih sayang ini.
Aku tak butuh alasan. Dan tak ingin pula alasan itu muncul tanpa disengaja.
Karena menurut pengalamanku yang 'berpacaran' bertahun-tahun sebelum kita bersama, status 'pacar' itu justru memunculkan terlalu banyak alasan untuk memberi, dan mengharapkan timbal-balik.
Aku tak mau seperti itu (lagi)..
Aku mau tulus menyayangimu, tak peduli status kita, bahkan aku akan tetap menyayangimu meski kamu anggap aku tak ada.

Dan kamu tak ingin terikat. Sama seperti aku yang tak mau diikat.
Kita tak ingin diatur bagaimana cara kita saling menyayangi.
Ada yang bilang kita ini takut komitmen.. tapi mereka tidak tahu, kita pun saat ini masing-masing sedang menjalani sebuah komitmen.
Kamu dengan komitmenmu dengan rasamu,
dan aku dengan komitmenku dengan rasaku..
Kita akhirnya saling mengikat dengan satu yang begitu kita senangi, kebebasan.

Aku bebas menyayangimu dengan caraku.
Kamu pun bebas menyayangiku dengan caramu.
Berjalan ke arah yang sama, akhirnya kita sepakat untuk berjalan berdampingan, meski kita tetap berada di jalur yang berbeda.
Dan meski kita tak tahu dimana persimpangan yang akan memisahkan kita..

Kita memang sepasang kekasih. Kita adalah life partner. Pasangan hidup. Karena saat ini, detik ini di hidupku, kamu menemaniku. Dan saat ini, detik ini, aku pun mengisi hidupmu.
Tapi kita tidak 'pacaran'. Kita menolak disebut 'pacaran'.

Lalu apa namanya hubungan ini?
Ah, menurutku manusia belum sanggup berikan hubungan ini nama...apa perlunya pula sebuah nama?
Toh kita menikmati menjalaninya.
Toh kita tetap saling mencinta.
Dan toh, kesepakatan itu tetap kekal detik ini...

(Bandung, 17 Mei 2013)

Friday, May 3, 2013

Noda Samar Dalam Cahayaku

Hitam di langit pagiku tak perlu kau tahu sebabnya.
Malah, ku usahakan agar kau tak perlu melihatnya sama sekali..
kau tak perlu tahu ia bahkan ada.
Cukup kau lihat, indah sinar mentariku.

Bukan ku tak mau berbagi warnaku padamu, bukan ku tak percaya kau akan mengerti.
Aku hanya ingin kau tak ingkari hangatnya mentari pagi
Aku hanya ingin kau selalu dapat nikmati indah biru langitku
Indah dan tentramnya duniaku, yang mungkin akan hapuskan gelap duniamu.

Jadi tak perlu kau tahu, noda yang mengotori cantiknya alamku.
Karena tugasku, inginku, butuhku, adalah untuk indahkan duniamu selalu
bahkan ketika tak ada setitikpun warna tersisa didalamnya...

(Bandung, 1 May 2013)

Tuesday, April 16, 2013

Kencan Mentari dan Langit

Sore hari ketika langit berkencan dengan matahari,
bercengkrama mencipta kecerahan yang menyelimuti bumi
Dedaunan kuning menari-nari riang mengiringi desiran sejuk angin yang lewat sesekali.
Hamparan putih awan layak berkejaran kesana kemari
menikmati kesempatan memiliki langit biru yang jarang terlihat belakangan ini,
memiliki langit biru sebagai latar untuk dihiasi.

Semakin erat langit bercengkrama dengan mentari
memancarkan sinar yang kadang begitu terik, yang dikulit terasa menyelekit.
Tercium sekelibat harum buah persik,
terdengar pula dentingan pisau dan garpu yang berisik.
Lalu langit mulai gelap.. dan turun hujan rintik
Menandakan akhir kencan matahari dan langit.
Setidaknya untuk sore ini…

(Dago, 2 Januari 2013)

Monday, December 24, 2012

Goresan Rindu

Aku rindu.
Rindu yang tak terkira, yang bahkan seluruh bintang di angkasa tak sanggup mewakilkannya.
Rindu hangat kehadiranmu, namun justru dingin malam menyelimutiku.. rindu hingar bingar suaramu, karena kini yang terdengar hanya nyanyian sendu serangga.
Nyanyian sendu yang menyayat hati seperti rindu ini.


Aaahh.. apa gerangan yang sedang kau mimpikan saat ini, kasih?
Ada kah bayang wajahku hiasi bunga tidurmu? Atau aromaku, yang mungkin dapat menenangkanmu? Atau mungkin hanya sekedar namaku kau sebut. .dalam ceritamu untuk Tuhan hari ini?
Yang ku tahu pasti, hati ini penuh oleh cinta untukmu, otak ini riuh oleh teriakan yang tak henti menyerukan namamu, dan senyum yang mengembang terus menerus hanya dengan membayangkan wajahmu.. bahkan indah, rasa menyiksa di dada ini akibat merindukanmu.

Aku tak sabar menunggu kehadiran burung pagi nanti, untuk sampaikan rinduku padamu, dan berharap ia akan terbang menghampirimu, menyuarakan kicauan rindu itu.

Sungguh aku rindu, kasih..


Jakarta, 24 Desember 2012

Saturday, December 22, 2012

Malam Tujuhbelas Desember

Malam ini, di Tujuhbelas Desember
dihiasi sinar lampu remang-remang, ditengah keheningan ruangan kubus berpintu ini.
Kita berbaring, berdua. .bercinta dalam kesunyian.

Kau tatap lekat mataku dengan mata tajammu.
Kau sentuh wajahku, perlahan...
Kau pejamkan matamu, dan larut pada suasana. Menikmati setiap ujung jarimu menyentuh tiap titik di wajahku.
Aku pun pejamkan mataku, tenggelam dalam panas sentuhanmu.
Menikmati tiap detik, menikmati tiap belaian.

Perlahan kau sentuh bibirku dengan bibirmu
Lembut, hangat, basah...sungguh rasa yang memabukkan.
Dunia seakan berhenti berputar, jam tanganmu pun sunyi seperti berhenti berdetak.
Kecupan manis yang begitu panjang, hanya ditemani degup jantung kita yang tak mau melambat.

Lambat, semua terasa berjalan begitu lambat, tak seperti degup jantung ini.
Dapat kurasakan manis tiap senti dari bibirmu, geli dan tajam dari tiap helai kumismu, dan hangat dari tiap hembusan nafasmu..
Indah.

Perlahan kau jauhkan bibirmu dari bibirku yang seakan tak mau lepas.
Kau tatap lekat lagi mataku, dan perlahan kau bisikkan
"Sekali lagi, selamat ulang tahun, sayang.."
Setetes air mata keluar perlahan dari sudut mataku.
Air mata yang turut menikmati,
saat kita bercinta dalam kesunyian...


(17 Desember 2012, 22.15)

Api unggun di kala rimis

Api unggun di kala rimis
Perpaduan dua unsur yang saling bertentangan, berdansa dalam harmoni, mencipta romansa penuh janji.
Menghangatkan dan menyinari, namun juga menyejukkan..

Api unggun di kala rimis.
Mungkin itulah gambaran tepat tentang suasana hatiku saat kita pertama bertemu.
Cahaya jingga kemerahan yang berbinar dari wajahmu menyilaukan mataku,
namun senyum kecil dari bibirmu mampu menyejukkan hatiku.
Dua rasa yang berbeda, bercumbu penuh semangat hingga menyesakkan dada.
Romansa yang tercipta, ketika bara api menyambut nyanyian merdu hujan..


(Sebuah tulisan acak-acakan terinspirasi oleh kata-kata seorang dalang kepada seorang teman. Terima kasih, dymiraviori sebagai sumber inspirasi)


Bandung, 18 Desember 2012

Saturday, December 15, 2012

Akhir Sebuah Cerita Cinta

Telah lama cerita cinta itu kami jalin, telah lama hubungan itu kami rajut.. namun layaknya semua cerita, kami pun sampai pada ujungnya, beberapa bulan yang lalu.

Lima tahun lima bulan sebelas hari.
Selama itu kami bersama, menjalani hidup berdampingan, saling mengasihi. Dulu, kupikir ini adalah cerita yang hanya akan diakhiri oleh kematian. Cinta yang akan aku bawa sampai mati. Dulu, ketika aku masih naif, ketika aku begitu jumawa akan kemampuanku mencintai.

Kata demi kata, tindakan demi tindakan, hari demi hari. Begitu banyak kesalahan yang kami lakukan, yang merusak perasaan di hati ini diam-diam, tanpa aku sadari.. yaa, kesalahan yang membunuh cintaku untuknya. Aku tak menyalahkannya, tak akan pernah. Karena aku pun bersalah dalam hal ini, aku pun turut membantu membunuh perasaanku sendiri secara perlahan. Namun tanpa kami sadari..

Hingga akhirnya, hal demi hal yang kami lalui di akhir cerita ini, menyadarkanku tentang keadaan hatiku. Hati yang sebelumnya menyerukan namanya setiap saat, kini telah tiada. Binasa. Dan kami pun perlahan menyadari, cerita ini hampir sampai pada ujungnya. Tak peduli apapun yang kami lakukan untuk memperbaiki keadaan ini, untuk menghidupkan kembali hati penuh cinta untuknya yang telah mati ini, semua tak mampu mengubahnya.

Ya, hati untuknya itu telah mati... karena kami sendiri.
Dan yang telah mati, tak akan bisa dihidupkan kembali, setidaknya mungkin untuk saat ini.

Namun aku sangat bersyukur pada Tuhan, telah memberikan kami kesempatan untuk menciptakan cerita cinta yang begitu panjang dan indah ini. Aku bersyukur pada Tuhan, aku diberi kesempatan untuk mencintai sedalam itu. Aku juga bersyukur pada Tuhan, karena kami telah diberi jalan yang terbaik untuk kami masing-masing. Ya, masing-masing, bukan berdampingan lagi.

Dan, aku bersyukur kepada Tuhan untuk kamu, lelaki yang pernah mengisi hidupku sekian lama..
Lelaki yang dulu selalu ada disisiku, di baik dan buruk ku.
Maaf, jika aku bukan lagi sosok wanita yang dulu begitu kau puja, kau cinta. Tetapi aku yakin, suatu saat, yang terbaik untukmu akan datang..
Aku berharap Tuhan memberimu kekuatan dan keberkatan selalu, dan tak membiarkanmu merasakan setitikpun kesedihan. Karena kau adalah sosok yang telah membantu membentukku menjadi diriku yang sekarang. Diri yang kini dapat kubanggakan.

Berbahagialah, kekasih yang telah lalu..
Aku pernah amat mencintaimu, dan meski hati itu telah binasa, kau tetap salah satu lelaki luar biasa di mataku.

Ini... mungkin akhir dari sebuah cerita cinta.
Tapi yakinlah, ini hanyalah akhir sebuah chapter di hidup kita masing-masing. Jadi, mari kita melanjutkan kisah hidup kita masing-masing, meski kini tak lagi bersama.

Terima kasih! :)

Saturday, December 8, 2012

For That, Love, I Love You More. .

Love, you have no idea what you have done to me..
You have no idea how you affected me.

You stopped the rain in my sky, brought out the brightest sun
You let it snow in my world, yet you warmth me with your heart
You made my world spin so fast, but you make me stand still with the strength from our holding hands.

Love, you turned my world upside down, and at the same time you taught me how to know myself..
You love me for who I am, a woman I never thought I was.
A woman I thought so weak, who apparently could become so strong. .

Love, you are maybe not my everything
but you are a very special thing, that let me know how to love myself before anything else.

And for that, Love, I love you more. . .

Sunday, October 21, 2012

Lelaki Bermata Sendu

Lelaki bermata sendu, duduk diam termangu.
Entah berapa lama ia telah menunggu
entah harus berapa lama lagi ia akan menunggu.
Menunggu kembalinya kekasih hati
yang pergi membawa seluruh hatinya,
utuh. .
Utuh diberikan Lelaki bermata sendu itu.
Tulus, untuk kekasih hatinya,
Sang Gadis Matahari.
Yang pergi membawa sinarnya,
meninggalkan Lelaki bermata sendu dalam kegelapan
Gelap yang pekat, abadi, dan dingin..

Lelaki bermata sendu,
dengan penuh harap menanti kembalinya sang Gadis Matahari
Kembali dengan sinarnya,
kembali dengan hatinya,
kembali dengan kesiapannya untuk menghangati si Lelaki bermata sendu. . .
Hanya dia.


18 Oktober 2012

Saturday, June 9, 2012

Bagaimana?

Bagaimana aku bisa terus menyayangimu, saat kau terus menyakiti hatiku?
Bagaimana aku bisa mempercayaimu, ketika kau terus mengelabuiku?
Bagaimana aku bisa terus mempedulikanmu, disaat kau tak sedikitpun memikirkan perasaanku?
Bagaimana aku bisa tetap bertahan, dikala kau seakan enggan menggenggam?
Bagaimana ku yakin kau mencintaiku, jika sikapmu tak berkata begitu?

Aku pun tak tahu, bagaimana cinta ini semakin kuat walau badai demi badai menghantamnya..
Yang aku tahu hanyalah satu, aku takkan pernah bisa berhenti mencintaimu..

Matahari Pagi

Biar cahaya sirna dikala malam, dan gelap menyelimuti bumi, pagi kan bersabar menunggu, kembali datangnya mentari.

Seperti cinta dalam hati, yang setulusnya ku persembahkan padamu. Yang tak peduli alang melintang yang tak bosan melukai hati yang rapuh ini..

Aku pun akan selalu menunggumu disini, menjaga cinta ini tetap suci.
Setia bagai pagi menanti matahari..

EGO

Do you know what thing that most likely to break a relationship?
Your EGO.
Everyone has their own pride, but when you're in a relationship, pride will only breaks your lover's heart, and alas, breaks your relationship.

Why?
Because with your big ego, you'd always want to win, win in every situation, every argument.
With your big ego, you'd never listen to your lover, just because you don't wanna feel like s/he's bossing you around, like you're his/her b*tch (pardon my language).
You don't want people to say that you're whipped.

So most of the time, you ignore your lover's words. Even most of the time what s/he said is for your own good, for your own safety, for your own happiness, and s/he said it because s/he cares..
But you just don't wanna listen.
You just listen to your big stupid ego.

By not listening, most of the times, you do what you're not suppose to, even though your lover has told you what those things would do to you.
And because you don't wanna listen, you're eager to do it, but you don't wanna argue with your lover, so you lie.
Covering your track. But in the end, s/he finds out anyway..

So it breaks your lover's heart.
But you still don't wanna listen, and you're not sorry, because in your ego's point of view, you've done nothing wrong, even though in your heart, you know s/he's right..

So you argue, argue, and argue.
Until s/he feels guilty because you make them think they're controlling you. Or until they're tired arguing with you, and then they let you go..

Well, ego will always win. I guarantee that.
But it'll never end well.
So the question is, will you let your ego controls you, or let your right mind speak?

Because when you're really in love, winning or losing doesn't matter at all..
What matters is how you show your love, keep it that way, and how to make your beloved happy.

Friday, June 1, 2012

Sedikit romansa tidak akan menyakitkan


Romansa, atau dalam bahasa Inggris romance.

Biasa kita kaitkan dengan pernyataan cinta dan perasaan. Tapi sesungguhnya, apakah romansa itu?

Tidak, bukan saya bermaksud mengkuliahi. Tidak juga saya bermaksud sok pintar. Penjelasan dibawah ini hanyalah wujud dari bertumpuknya pikiran didalam otak saya yang berteriak minta keluar. Maka saya keluarkanlah.

Romansa, menurut saya, tidak hanya ada di dalam hubungan sepasang kekasih. Kita pun dapat menemukan romansa antar para sahabat, anggota keluarga, maupun romansa dengan binatang peliharaan.

Romansa, sekali lagi menurut saya, memang tentang cinta. Namun, hakekat cinta itu pun luas bukan? Cinta terhadap Tuhan, cinta terhadap alam, cinta terhadap sesama, cinta terhadap keluarga, cinta terhadap teman, dan cinta terhadap satu orang spesial yang diciptakan khusus untuk menemani sisa hidup seseorang.

Romansa yang sering dikaitkan dengan hubungan sepasang kekasih, menurut saya, justru tidak sepenuhnya benar. Sepasang kekasih tidak membutuhkan romansa untuk mempertahankan cinta mereka. Sepasang kekasih tidak butuh romansa sebagai alasan pemersatu mereka. Mereka sudah memiliki cinta, rasa percaya, dan kepedulian antar satu sama lain untuk tetap bersama.

Lalu, romansa itu apa?

Di kepala saya, kata yang muncul hanyalah satu "kegombalan". Mungkin bukan untuk romansa antar teman atau keluarga, tapi diantara hubungan sepasang kekasih.

Karena nyatanya, romansa digunakan untuk menarik perhatian lawan jenis, ketika perbedaan tidak dapat disatukan namun kehendak memaksa.
Romansa digunakan untuk mengambil kepercayaan lawan jenis ketika kejujuran tidak mungkin diungkapkan.
Romansa digunakan untuk menyenangkan hati pasangan ketika niat tersebut sebetulnya telah lenyap dalam hati.
Romansa itu digunakan, ketika nafsu sudah tak tertahan lagi.
Ya, menurut saya, romansa antar sepasang kekasih hanyalah bentuk sebuah kebohongan.

Namun, bukan berarti romansa itu harus hilang.
Tapi gunakanlah romansa itu dengan kejujuran.
Munculkanlah romansa itu dengan ketulusan.
Karena sesungguhnya, romansa itu pun penting. Sedikit romansa dalam hidupmu tidak akan menyakitkan, kawan. Tak perlu kau menjadi orang lain dalam mewujudkan romansa, tapi buatlah romansa itu sebagai penunjukkan jati dirimu.
Munculkanlah romansa sebagai perwujudan perasaan mu yang nyata.

 (Romance on Tumblr)