Showing posts with label short stories. Show all posts
Showing posts with label short stories. Show all posts

Thursday, May 30, 2013

Doa Dalam Hujan

Surya telah terbenam di balik megah Borobudur.
Perlahan rintik hujan jatuh beraturan membasahi pelataran
membanjiri altar megah yang telah lama dipersiapkan untuk pemanjatan doa.
Namun para umat tetap khusyuk beribadah
menyampaikan ribuan cerita dan harapan kepada sang hyang Buddha.

Puluhan ribu pengunjung tak sabar menanti,
menanti api harapan di terbangkan bersamaan, yang akan menerangi langit malam itu.
Banyak dari mereka yang akhirnya mengutuk hujan,
mengutuk penyebab gagalnya perayaan pelepas api harapan.
Tapi sepasang insan tetap setia menanti, duduk merenung di bawah hujan
Bergandengan tangan, menikmati malam
Mereka memanjatkan doa, menyampaikan kisah mereka pada Yang Kuasa.
Berharap didengar, berharap terkabulkan doanya

Si perempuan menoleh ke pasangannya,
yang memegangnya erat menjaganya dari dingin angin malam
Si perempuan lalu berkata, "Mereka bilang malam ini tak akan ada api harapan yang akan terbang menyampaikan doa, tak ada cahaya lampion yang hiasi gelap langit. Tapi untukku, malam ini telah begitu cerah karena hadirmu disini, menemani. Tak inginkah kau tahu isi doaku?"
Si lelaki lalu menatap lekat wajah perempuan yang dikasihinya itu
ia tersenyum kecil melihatnya,
wanita bertubuh mungil yang gemetaran akibat bermandikan air hujan.
Ia berkata kepadanya, "Tak perlu kau katakan. Aku hanya berharap doaku di Malam Natal yang lalu sama seperti harapan yang kau panjatkan malam ini. Dan aku berharap, aku masih menggenggam tanganmu di Malam Natal berikutnya, dan mungkin tetap berdampingan dibawah hujan di Waisak berikutnya"

Mereka lalu berdekapan. Saling menghangatkan di tengah ramai lalu lalang pengunjung yang kecewa.
Namun damai memenuhi hati mereka, dan kasih senantiasa menyinari malam gelap Waisak di Borobudur.
Sambil masih bergandengan tangan, mereka pun turuni candi
meyakini dalam hati, tak peduli meski mereka berdua beribadah dengan cara berbeda dan tak mengagungkan nama Tuhan yang sama,
mereka telah ditakdirkan untuk berdoa berdampingan,
saling menemani,
dan tetap larut dalam satu cinta..


(Jogja, 26 Mei 2013)

Thursday, January 10, 2013

Dandelion, Si Gadis Berambut Pirang

Dandelion.
Si gadis berambut pirang berwajah riang
Terbang melayang mengejar angin
mencari kasihnya yang hilang
Tersesat di tengah hutan pinus yang lebat dan gelap
Tenggelam tersapu deburan ombak
Hanyut terbawa aliran sungai yang deras.

Dandelion.
Si gadis berambut pirang, yang kini tak lagi riang
Tak mampu berdiri menapakkan kaki, hanya mampu membiarkan angin menerbangkannya tinggi
Tinggi, sangat tinggi...
menanti saat angin lelah dan menghempaskannya jatuh ke bumi.

Dandelion,
terjebak di langit luas
berharap menemukan kasihnya yang akan menangkapnya
kapanpun angin menghempaskannya.

Dandelion,
simbol cinta penuh harapan..


(18 Oktober 2012)

Thursday, September 27, 2012

Kisah Gadis Kecil Dan Burung Bersayap Patah

Makhluk kecil itu menatap langit penuh harap
menunggu waktu kapan ia dapat mencapainya.
Burung kecil dengan sayap yang patah,
namun dengan semangat yang tak pernah melemah.
" Akan datang angin yang membawaku terbang.
Akan datang awan yang akan menuntunku pulang "

Gadis kecil itu menatap sang burung penuh takjub
menanti kapan ia akan terbang melayang.
" Burung kecil yang lemah, dengan sayap yang patah "
Sebelum gadis itu melihatnya, sebelum gadis itu menyadarinya.
Sayap kecilnya lah yang patah,
Tubuh kecilnya lah yang tak mampu terbang.
Namun harapnya tak pernah pergi,
Angannya tak pernah lari.

Burung kecil dan gadis itu pun termenung menatap langit
menyandarkan punggung mereka di sejuknya rerumputan
" Biar langit menampung harapku, biar rerumputan menopang bebanku "
Dan mereka pun terbang, bersama angan,
Melayang. .

Saturday, July 14, 2012

Aku Ada Di Hadapanmu, Maira.. (Part 2)

Sudah enam bulan lebih sejak Krisna terakhir bertemu Maira. Memang, sejak Krisna melanjutkan kuliahnya di Jogja dan Maira melanjutkan kuliahnya di Bandung, mereka jadi jarang bertemu. Apalagi Krisna memang hanya pulang ke Jakarta setiap liburan semester.


13 Juli adalah ulang tahun Maira. Kebetulan pula, hari itu Krisna akan pulang ke Jakarta. Ia tidak sabar untuk bertemu dengan Maira. Berbagai macam hadiah sudah ia siapkan untuk gadis mungil kesayangannya itu, termasuk patung dari clay berbentuk persis seperti Maira yang khusus ia buat sendiri setelah ia mempelajarinya di kampus.

 Krisna telah jauh-jauh hari mengingatkan Maira bahwa ia akan ada di hari ulang tahunnya. Tentu saja Maira senang bukan main. Dari ceritanya, Maira sepertinya sedang tidak memiliki pacar. Bulan April lalu, Maira putus dari Gema, pacar ketiganya sejak kuliah dua tahun yang lalu. Seperti biasa, Maira selalu memacari lelaki yang salah. Kali ini, pacarnya menduakannya, dan mereka pun langsung berpisah. Karena itulah, Krisna pun turut bersemangat untuk merayakan ulang tahun Maira hanya bersama dia dan keluarga Maira.

 Krisna beranjak menuju ke rumah Maira begitu ia tiba di Jakarta. Orang tuanya telah ia beritahu sebelumnya, dan mereka maklum, karena mereka tahu betapa sayangnya putra sulung mereka itu kepada Maira. Dan toh nanti juga Krisna akan lebih lama menghabiskan waktu dirumah..

 Sesampainya di rumah Maira, keadannya sangat lengang. Krisna sedikit bingung, karena biasanya teman-teman Maira lainnya pasti akan berkumpul dirumah Maira untuk merayakan ulang tahunnya. Maira memang tidak pernah merayakan ulang tahunnya di kafe atau restoran, karena masakan ibunya serta kue buatan Krisna jauh lebih lezat dibandingkan harus membeli.


"Siang, Tante Reni.." sapa Krisna pada ibu Maira yang sedang bersantai di teras rumah.
"Wah, nak Krisna! Lama sekali tidak bertemu ya, Tente sampai kangen.. Gemukan ya kamu sekarang!"
"Hehe, maklum Tan, anak kosan, kerjaannya cuma makan. Ngomong-ngomong Maira-nya mana Tante? Kok tumben sudah sore gini belum ada yang ngumpul?"
"Iya nih Kris, Maira masih di jalan pulang dari Bandung. Terjebak macet sepertinya. Padahal Tante sudah masak dari pagi lho.. Tante pikir dia pulang pagi tadi. Kamu tunggu saja ya di kamar Maira," ujar Tante Reni sedikit kecewa.
"Ngga apa-apa Tante, aku ikut siapin semuanya ya. Kebetulan aku bawa beberapa hiasan untuk dekorasi, Maira pasti suka,"
"Oh ya sudah silahkan kalau tidak merepotkan. Tante mau siapkan kuenya dulu. Seharusnya sih satu jam lagi Maira sampai.."


Sudah dua jam Krisna menunggu Maira pulang. Ia sudah berkali-kali mengirimkan SMS ke Maira, mengatakan ibunya dan dia telah selesai menyiapkan semuanya dirumah. Namun, tidaka ada balasan satupun dari Maira. Mereka pun khawatir.

"Aduh, Maira ngga kenapa-kenapa di jalan kan ya? Kok ngga sampai-sampai?" ujar Tante Reni khawatir.
"Biar Papa telepon ya Ma," ujar Om Denny, papa Maira.
"Ngga usah Om, biar Krisna saja." Krisna pun lalu menelepon Maira. Setelah lima kali mnelepon, akhirnya Maira pun mengangkat teleponnya.


"Mai, kamu dimana? Aku, Om, sama Tante sudah nungguin daritadi. Katanya kamu sudah empat jam yang lalu berangkat dari Bandung, kok ngga sampai-sampai?"
"Aku emang berangkat empat jam yang lalu, naik bis, Kris.." jawab Maira lunglai.
"Kamu kenapa lemas begitu? Terus kenapa belum sampai? Mau aku jemput di terminal jam berapa?"
"Ngga apa-apa kok, aku tadi ketiduran di bis. Aku..ngga pulang ke Jakarta, Kris."

"Lho, terus kamu kemana?!" Krisna mulai kesal, namun ia juga khawatir karena tidak biasanya Maira pergi kemanapun tanpa bilang ke orang tuanya.
"Aku lagi menuju Semarang.." terdengar suara Maira mulai memelas mendengar Krisna marah. Ia tahu, sahabatnya itu sangat menyeramkan jika marah, walaupun sebelumnya Maira tidak pernah kena marah oleh Krisna.


"SEMARANG?!? Sama siapa?! Dan kenapa Om Tante ngga tahu?" nada bicara Krisna mulai tinggi. Untungnya, ia sudah pindah ke halaman rumah supaya papa dan mama Maira tidak mendengar percakapan mereka.
"Aku sama Gema..tapi kamu jangan bilang ke Mama Papa ya. Bilang saja aku sama temen-temen kosan. Dia mau kasih surprise buat aku disana, Kris. Ini penting banget buat aku, kamu ngertiin ya, Aku harus tutup teleponnya. Aku janji nanti begitu sampai Semarang aku telepon Mama Papa. Maaf ya Kris. Dah"

Klik. Begitu saja Maira menutup teleponnya sebelum Krisna sempat berkata apapun. Gema? Pria yang sudah menduakannya? Dan sekarang mereka keluar kota BERDUA?! Maira sudah keterlaluan, pikir Krisna. Ia pun memutar otak bagaimana caranya membertiahu orangtua Maira dimana keberadaan Maira sekarang. Tentu saja, sekecewa apapun ia pada Maira, ia tidak akan memberitahu mereka kalau Maira pergi bersama mantan pacarnya. Krisna sedih melihat ekspresi Tante Reni, tak mau berlama-lama, ia pun pamit pulang.

•••

Tiga minggu sudah Krisna berlibur di Jakarta, dua hari lagi ia harus pulang ke Jogja karena perkuliahan akan segera dimulai. Namun, ada yang terasa kurang di liburan ini..ia belum juga bertemu Maira. Sejak pulang dari Semarang dua minggu yang lalu, setiap ia datang ke rumah Maira, gadis itu selalu tidak ada. Pergi dengan Gema, kata Mamanya. Akhirnya, setelah empat kali kesana namun gagal menemui Maira, Krisna pun menitipkan saja hadiah-hadiah ulang tahun Maira yang telah ia siapkan kepada ibunya.

Hari ini Krisna ingin bersantai sejenak di kafe favoritnya dan Maira sambil membaca buku yang baru ia beli. Baru 10 menit ia duduk, Maira masuk dari pintu depan. Wajahnya tampak lesu.

"Ngapain kamu disini? Oh, pasti mau kencan sama Gema ya?" tanya Krisna sinis.
"A-aku..aku tadi ke rumah kamu. Katanya kamu pergi. Aku tebak kamu pasti kesini." jawab Maira takut-takut.
"Ada angin apa kamu cari aku? Tiga minggu aku disini, kamu cuek aja tuh."
Maira terdiam. Ia duduk di kursi di hadapan Krisna. Dan ia menunduk lesu.
"Gema selingkuh lagi?" tebak Krisna. Ia pun melihat air mata jatuh di pipi Maira.
"Dia..ngga selingkuh. Karena ternyata sebulan ini, dia ngga menganggap kalau kita pacaran lagi. K-kita cuma teman dekat, kata Gema. Dan dia berhak j-jalan sama cewek manapun.. Aku ngga nyangka..aku ngga nyangka bisa ketipu lagi sama dia.. Apa salahku?" Maira pun menangis, namun ia berusaha sekuat tenaga menahannya supaya tidak menarik perhatian pengunjung kafe yang lain.

Kamu ngga bisa menghargai orang-orang yang sudah jelas selalu ada buat kamu, demi mengejar orang yang sama sekali ngga peduli sama kamu.



"Kamu hanya terlalu percaya sama orang lain, Mai, sampai mudah kasih mereka kesempatan kedua, tanpa syarat apapun. Mau tahu salah kamu yang sebenarnya apa? Kamu ngga bisa menghargai orang-orang yang sudah jelas selalu ada buat kamu, demi mengejar orang yang sama sekali ngga peduli sama kamu. Dan begitu orang yang kamu kejar mencampakkan kamu, kamu balik lagi ke orang-orang yang sudah kamu tinggalin, tanpa mikirin apa yang mereka rasain.."

Maira tertegun mendengar ucapan Krisna.

"Aku bukan bonekamu Mai, yang bisa kamu tinggalkan dibawah kasurmu begitu kau punya mainan baru, lalu bermain denganku lagi begitu mainan barumu itu rusak. Aku punya perasaan.. Orangtua mu pun punya perasaan. Apa kamu pernah berpikir bagaimana perasaan mereka kalau mereka tahu kamu ke Semarang hanya berdua dengan Gema kemarin?"

"Aku sudah lelah, Maira..tidak dianggap sebagai sahabat oleh kamu, tapi seperti buku diary yang hanya merasakan sedihmu, tapi tidak pernah jadi bagian dari bahagiamu. Aku juga yang terlalu bodoh, karena terlalu sayang sama kamu, sehingga bertahun-tahun bertahan seperti ini, sampai kamu justru terlalu nyaman dan tidak memandangku sebagai lelaki. Tapi cukup sampai disini saja Mai.. Cukup."

Maira terdiam. Ia bahkan sampai berhenti menangis saking kagetnya mendengar ucapan Krisna. Ia tidak sanggup menatap mata Krisna.

"Ayo bangun, aku antar kamu pulang.." ucap Krisna lembut. Sepanjang perjalanan, mereka berdua terdiam. Setelah sampai dirumah Maira, Krisna pun bergegas pulang. Maira ingin sekali berlari mengejar sahabatnya itu, namun ia tidak sanggup...

(Bersambung)

Thursday, June 14, 2012

Aku Ada Di Hadapanmu, Maira.. (Part 1)

Maira berlari cepat ke kamarnya. Ia tak ingin seisi rumahnya melihat ia menangis. Ia pun melempar tubuh mungilnya ke atas kasur dan terisak. Air matanya berjatuhan tiada henti. Semalaman Maira tak berhenti menangis. Akhirnya ketika fajar mulai tiba, ia pun tertidur karena lelah..

•••

Hari itu hari Minggu. Sudah lewat pukul dua siang, tapi Krisna tak kunjung mendapat kabar dari sahabatnya, Maira. Biasanya, gadis mungil dengan rambut hitam legam yang panjang itu selalu meminta Krisna untuk menemaninya berjalan-jalan pada hari Minggu, atau sekedar memintanya datang ke rumah. Karena penasaran dan khawatir, lelaki berwajah manis itu pun beranjak ke rumah Maira.

"Maira nya ada, Tante?" Tanyanya sopan pada ibu Maira yang membukakan pintu.

"Lho nak Krisna, tumben jam segini baru datang ke rumah.. Ayo masuk, masuk. Maira sejak semalam tidak mau keluar kamar, dia juga belum makan seharian. Coba kamu bujuk dia ya," ujar wanita paruh baya yang masih terlihat cantik persis seperti putrinya itu.

Krisna pun menuju kamar Maira. Mereka sudah saling mengenal sejak 5 tahun yang lalu, ketika mereka baru sama-sama masuk ke Sekolah Menengah Pertama. Sejak saat itu pula, Maira tidak bisa lepas dari sisinya. Sejak itu juga, ia menjadi sahabat sekaligus penjaga Maira. Dan sejak saat itu pula lah, Krisna jatuh cinta padanya.

"Mai, ini aku. Aku masuk yaa.."
Begitu melihat Maira, hati Krisna terasa seperti tercabik-cabik. Matanya merah dan berair, wajahnya pun nampak muram. 'Lelaki mana lagi yang tega menyakit malaikat ku?!' Ujar Krisna dalam hati.

Namun Krisna mencoba menenangkan hatinya, lalu perlahan ia bertanya kepada Maira, "Kamu kenapa Mai? Cerita ya"

"Aku putus sama Anton, Kris! Katanya aku ini ngga sesuai sama harapannya! Cuma cewek manja ngga berotak, cantik pun engga!" Jawab Maira emosi sambil menahan tangis. Sakit hati Krisna mendengarnya.

Ya, Maira memang manja, tapi dia tidak pernah dan tidak mau menyusahkan orang lain, kecuali Krisna. Dan Maira adalah gadis tercantik yang pernah ia lihat..terutama ketika Maira tersenyum. Bibir mungilnya akan merekah di wajahnya yang bulat, dihiasi rambut hitam panjang yang lurus, serta matanya yang bulat yang selalu mampu mebuat hati Krisna luluh.

"Mai, aku kan sudah pernah bilang, Anton itu playboy. Tapi kamu tidak mau dengar.. Jangan didengarkan apa yang ia bilang, itu hanya alasan yang ia cari-cari supaya ia bisa memutuskanmu untuk wanita lain. Tapi bukan berarti wanita itu lebih baik dari kamu. Anton itu seperti anak kecil, yang selalu lebih tertarik kepada mainan baru meskipun mainan yang ia punya jauh lebih baik." Sebisa mungkin Krisna merangkai kata-kata yang bisa dimengerti Maira dan tidak menyakiti hatinya. Maira mulai berhenti menangis, dan mendengarkan Krisna dengan seksama seperti seorang anak kecil yang tengah mendengarkan nasihat ayahnya.

"Kamu itu cantik, Mai, sangat cantik. Bukan hanya wajahmu, tapi juga jiwamu. Ingatlah itu. Kesalahanmu hanyalah mudah salah menilai laki-laki, dan selalu jatuh cinta pada lelaki yang salah.. Sekarang usap air matamu, dan tunjukkan betapa cantiknya kamu."

"Kamu benar Kris! Aku saja yang terlalu mudah jatuh cinta sebelum mengetahui seperti apa lelaki itu sebenarnya. Mulai sekarang, aku akan lebih hati-hati lagi memilih pacar!" Jawab Maira bersemangat.

Sedikit sedih perasaan Krisna yang masih juga tidak dianggap sebagai 'laki-laki' dimata Maira. Namun melihat Maira sudah bisa kembali tersenyum, Krisna sudah sangat bahagia.

"Sekarang, kamu mandi yaa! Kita pergi ke kafe favoritmu, kita makan cheesecake, apa saja yang kamu mau, aku yang traktir. Bagaimana?"

"Horeeee!" Teriak Maira kegirangan. Ia pun berlarian ke kamar mandi. Krisna tersenyum simpul melihatnya. Malaikatnya yang rapuh, dan hanya dirinyalah yang mampu membuat Maira kembali tersenyum dalam keadaan apapun. Menyadari hal itu, sudah cukup membuatnya bahagia..

(Bersambung)

Tuesday, April 17, 2012

Krisanthya (Asih - Part 3)

Asih berlari secepatnya begitu ia mendengar teriakan Nyonya Anna, yang berasal dari kamar Nona muda kesayangannya. Firasat buruk sudah muncul sejak tadi pagi ia melihat Krisa pulang cepat dari sekolah dengan baju penuh lumpur dan mata yang membengkak akibat menangis. Krisa langsung mengusir semua orang yang membantu persiapan pesta ulang tahunnya. Baru kali itu Asih mendengar Krisa membentak selama 16 tahun ia merawat Krisa.

“Kalian semua pulang sekarang!! Pestanya batal!! Aku ngga perlu pesta ulang tahun! Pulaaaang!!!” jerit Krisa sambil menahan tangis. Asih pun menghampirinya dan berusaha menenangkannya.

“Non kenapa pestanya dibatalin? Memangnya Non ngga mau ulang tahunnya dirayain?” Tanya Asih lembut.
“Percuma Bi bikin pesta bagus-bagus, kalau ngga ada yang datang. Krisa ngga punya temen, Bi. Papa Krisa aja lupa kalau Krisa ulang tahun, buat apa dirayain?”

 Sedih hati Asih mendengar curahan hati Nonanya itu. Namun ketika Nyonya Anna bertanya kepadanya, ia tidak berani menceritakan apa yang sebenarnya terjadi..

 Asih mendorong pintu kamar Krisa yang setengah tertutup secara perlahan. Ia melihat Nyonya-nya sedang duduk sambil terisak. Ia alihkan pandangannya kearah kamar mandi di kamar Krisa. Dan disitu.. di kusen pintu kamar mandi itu..

 ..terikat kain satin berbagai warna yang disatukan sehingga menjadi panjang, dan terdapat simpul kuat diujungnya. Simpul itu dengan indahnya membalut leher Krisa yang kini sudah tak bernyawa lagi..seakan ia sedang memakai syal dilehernya.

Asih perlahan menyentuh lengan Krisa. Dingin..

Di lantai kamar mandi, Asih menemukan secarik kertas. Dengan menahan tangis, ia membacakan isi kertas tersebut untuk Anna.
Mama, Papa.. maafin Krisa, ngga pernah bisa buat Mama dan Papa bangga sama Krisa. Krisa sadar, Krisa ngga secantik Mama atau sepintar Papa, Krisa juga ngga punya bakat apa-apa.. Disekolah pun ngga ada yang mau jadi temen Krisa, pasti karena Krisa bodoh ya Ma, Pa? Krisa dibenci sama senior Krisa, karena katanya Krisa anak orang kaya yang sombong dan nyebelin..

Krisa jadi sadar, buat apa Krisa hidup terlalu lama kalau hanya bisa menyusahkan Mama dan Papa? Lebih baik Krisa pergi.. Supaya Mama dan Papa bisa bahagia. Supaya Mama dan Papa ngga merasa bersalah ninggalin Krisa dirumah sendirian lagi.

Maaf ya Ma, pestanya Krisa batalin.. Krisa cuma ngga mau Mama bayar mahal untuk hal yang percuma.. Krisa ngga mau melihat wajah Mama yang kecewa sama Krisa lagi karena ngga ada yang datang ke pesta megah Mama.
Papa.. cepat pulang ya, jaga Mama. Jangan tinggalin Mama sendirian dirumah terus ya Pa..

Untuk Bi Asih, maaf ya Bi, Krisa sudah ngga bisa temenin Bibi lagi. Makasih ya udah ngerawat Krisa selama ini.

Mama, Papa, sekali lagi maafin Krisa yaa.. Krisa yakin, kalian akan lebih bahagia tanpa Krisa. Krisa sayang Mama dan Papa..”

 Asih tergolek lemas tepat dibawah kaki Krisa yang masih menggantung. Ia memeluknya, menciuminya, seakan anak kandungnya sendiri yang telah pergi meninggalkannya.

 Anna hanya bisa terus menjerit, melihat tubuh putrinya yang sudah dingin. Ia baru menyadari betapa kesepiannya anaknya selama ini, namun kini semuanya sudah terlambat..

(Krisanthya - End)

Krisanthya (Anna - Part 2)

Anna sengaja membatalkan semua rapatnya hari itu. “Hari ini ulang tahun Krisa..” gumamnya, “Aku harus memberikannya hadiah yang istimewa. Aku belum sempat memberinya selamat atas nilainya yang sangat memuaskan, aku bahkan tidak mengantarnya di hari pertamanya masuk ke SMA. Mungkin aku harus membeli hadiah lebih dari satu, sebagai pengganti kehadiranku sebagai seorang Ibu selama ini. Ya, hadiah yang banyak pasti bisa mengganti itu semua.”

Dalam perjalanan pulangnya ke rumah, Anna mampir ke berbagai toko untuk mencari hadiah istimewa untuk ulang tahun ke 16 putri satu-satunya itu. Ia membelikan Krisa ponsel paling canggih, laptop keluaran terbaru, berbagai pershiasan dari mutiara, dan sebuah gaun putih panjang yang sangat cantik untuk Krisa kenakan di pesta ulang tahunnya malam nanti.

Anna sangat yakin, bahwa barang-barang ini bisa menggantikan perannya sebagai Ibu yang selama ini ia lalaikan. Tidak lupa ia membeli kartu ucapan yang ia atas namakan dari suaminya, karena entah dibelahan dunia bagian mana suaminya kini berada, ia pasti lupa kalau hari ini adalah hari ulang tahun putri mereka.
Kesunyian menyambut Anna dirumah. Tidak ada party organizer maupun catering yang ia pekerjakan untuk pesta ulang tahun Krisa yang nampak. Tidak ada hiasan, maupun hadiah-hadiah untuk Krisa.

“Asih! Asih! Apa-apaan ini? Kok sudah jam segini belum ada persiapan apa-apa? Pestanya kan jam 7 malam?” teriak Anna pada pembantunya itu.

“Maaf Nyah, tadi pagi semuanya disuruh pulang sama Non Krisa. Dia bilang, nggaperlu ada pesta, soalnya ngga akan ada yang datang.”

“Omong kosong! Sekarang Krisa dimana? Sudah pulang sekolah?” Bi Asih pun mengangguk sambil menunjuk kearah kamar Krisa di lantai 2.

“Non tadi pulang cepat, Nyah, langsung masuk ke kamar, sampai sekarang belum keluar.. Ditawari makan siang juga ngga mau.”

Anna pun bergegas menuju ke kamar putrinya. Ia sedikit kesal karena usahanya untuk mengadakan pesta besar-besaran begitu saja dibatalkan oleh Krisa. ‘Mana mungkin tidak akan ada yang datang?’ pikirnya.
Ia pun mengetuk pintu kamar Krisa. Tidak ada jawaban. Berulang kali Anna memanggilnya, tidak pula ada jawaban. Akhirnya ia pun membuka pintu kamar Krisa yang ternyata tidak terkunci.

Krisanthya (Krisa - Part 1)

Krisanthya terbangun lebih cepat pagi ini. Ini adalah hari pertamanya memasuki SMU. Dia bahkan hampir tidak tidur semalaman, tidak sabar menanti hari istimewa ini.

Tentulah dia gembira, karena untuk pertama kali dalam hidupnya, dia merasa akhirnya ia dapat memuaskan keinginan orang tuanya, yaitu masuk ke SMA unggulan di Bandung, yang merupakan almamater ayahnya.
Sejak kecil, Krisa dididik dengan sangat disiplin dan cukup keras oleh ayah dan ibunya. Ketika masih berumur 3 tahun, Krisa sudah diikutkan pada berbagai les seperti les piano, balet, bahkan biola. Namun karena itu bukanlah minat dan bakatnya, tidak sampai sebulan, Krisa pun berhenti karena kemampuannya tidak berkembang.

Sebenarnya Krisa bukanlah gadis cantik yang tidak berotak. Gadis berambut coklat panjang itu memiliki bakat dibidang teater. Ia sangat pandai berakting. Namun orang tuanya berpikir akting bukanlah merupakan sebuah bakat, melainkan hanya kebohongan yang tertutupi dengan baik. Sehingga selama 3 tahun di SMP-nya, Krisa selalu bersembunyi-sembunyi untuk mengikuti latihan teater, dan selama itu pula kedua orang tuanya tidak pernah satu kalipun datang ke pertunjukkan dramanya..

Krisa mengenakan seragam barunya. Ia tampak semakin cantik dengan rok abu-abu seragamnya yang baru. Ia bergumam dalam hati, “Akhirnya aku bisa memenuhi salah satu permintaan Papa dan Mama. Aku yakin mereka sekarang sedang bersiap untuk mengantarku ke sekolah, tidak seperti saat pertama kali aku masuk SMP dulu, mereka malah pergi berbisnis ke Cina. Sekarang mereka pasti menantiku dibawah!” Krisa sungguh tidak sabar lagi. Ia pun memoles wajahnya seadanya, dan berlari menuju ke bawah, ke ruang makan.

“Mana Papa dan Mama, Bi?” Tanya Krisa kepada Bi Asih, pengasuhnya sejak kecil. Ruang makan terlihat lowong, hanya ada Bi Asih, dan seloyang kue Cheesecake kesukaan Krisa di meja.

“Tuan pergi tadi subuh, Non, katanya mengejar pesawat, ada urusan bisnis.. Nyonya pulang agak telat semalam, katanya minta agar tidak dibangunkan. Non sarapan dulu ya, Bibi sudah beli kue kesukaan Non. Habis itu ke sekolahnya diantar pak supir ya.” Krisa diam membisu.

‘Apa lagi salahku?’ teriaknya dalam hati. ‘Aku sudah menyenangkan hati mereka, bukan? Lulus dengan NEM tertinggi di sekolahku, masuk ke SMA favorit. Kenapa mereka tidak juga bangga kepadaku?’

………

Krisa memandang wajahnya di cermin. Ada sedikit bekas memerah berbentuk tangan di pipinya. Baru 3 minggu masuk SMA, namun ia sudah tidak tahan. SMA favorit yang ia kira memiliki murid-murid yang rajin dan disiplin, ternyata sama sekali berbeda.

Sejak hari pertamanya masuk sekolah, ia sudah dijahili oleh gerombolan kakak kelasnya yang perempuan. Katanya karena ia anak orang kaya, namun ia tahu sebenarnya karena pacar salah satu anggota gerombolan itu ada yang menyukai Krisa.

Setiap jam istirahat, mereka selalu menjahili makanan Krisa. Ada yang sengaja mendorongnya sampai jatuh, ada yang diam-diam menaruh sambal yang banyak didalam makanannya, sampai ada yang menjatuhkan kecoa kedalamnya. Tidak hanya itu, setiap pulang sekolah Krisa pun harus menghadap mereka untuk dilabrak. Dan hari ini salah satu dari mereka ada yang menamparnya, karena pacarnya memutuskan dia untuk Krisa. Padahal Krisa bahkan tidak pernah berbicara dengan laki-laki yang mereka maksud..

Krisa bahkan tidak punya teman, karena semua teman sekelasnya takut akan diperlakukan serupa bila mereka berteman dengannya.

Tuhan, apa salahku? Apa salahku sehingga orang tuaku sendiri membenciku? Apa usahaku selama ini belum cukup ya Tuhan? Apakah benar aku yang begitu menyebalkan, sehingga tidak ada satupun orang yang mau berteman denganku? Jawab aku Tuhan..” jerit Krisa.