Saturday, December 22, 2012

Api unggun di kala rimis

Api unggun di kala rimis
Perpaduan dua unsur yang saling bertentangan, berdansa dalam harmoni, mencipta romansa penuh janji.
Menghangatkan dan menyinari, namun juga menyejukkan..

Api unggun di kala rimis.
Mungkin itulah gambaran tepat tentang suasana hatiku saat kita pertama bertemu.
Cahaya jingga kemerahan yang berbinar dari wajahmu menyilaukan mataku,
namun senyum kecil dari bibirmu mampu menyejukkan hatiku.
Dua rasa yang berbeda, bercumbu penuh semangat hingga menyesakkan dada.
Romansa yang tercipta, ketika bara api menyambut nyanyian merdu hujan..


(Sebuah tulisan acak-acakan terinspirasi oleh kata-kata seorang dalang kepada seorang teman. Terima kasih, dymiraviori sebagai sumber inspirasi)


Bandung, 18 Desember 2012

Sebatang rokok dalam bungkusan merah


Aku hanyalah sebatang rokok.
Rokok filter yang berharga mungkin untukmu, namun merupakan sebuah racun berbentuk silinder mungkin untuknya.
Aku bukanlah barang berharga tinggi, apalagi langka
bukan kawan yang dapat menemani semalam suntuk, malah mungkin telah habis kau hisap saat cerita ini selesai kusampaikan..
Aku hanyalah sebatang rokok filter,
satu dari begitu banyak batang yang membuatmu candu.
Hisapan demi hisapan, yang kau pikir dapat menginspirasi.
Fana. . .
Aku hanyalah sebuah bentuk fana, sebuah gulungan tembakau biasa saja yang mungkin kau anggap bermakna, meski sekejap saja.
Aku sebatang rokok filter.
Yang dengan umur pendekku ini, kukerahkan segala kemampuanku hanya agar jari telunjuk dan jari tengahmu tak merasa sepi...

Aku sebatang rokok filter,
yang akan mati seselesainya kau tulis ceritaku ini.

Saturday, December 15, 2012

Akhir Sebuah Cerita Cinta

Telah lama cerita cinta itu kami jalin, telah lama hubungan itu kami rajut.. namun layaknya semua cerita, kami pun sampai pada ujungnya, beberapa bulan yang lalu.

Lima tahun lima bulan sebelas hari.
Selama itu kami bersama, menjalani hidup berdampingan, saling mengasihi. Dulu, kupikir ini adalah cerita yang hanya akan diakhiri oleh kematian. Cinta yang akan aku bawa sampai mati. Dulu, ketika aku masih naif, ketika aku begitu jumawa akan kemampuanku mencintai.

Kata demi kata, tindakan demi tindakan, hari demi hari. Begitu banyak kesalahan yang kami lakukan, yang merusak perasaan di hati ini diam-diam, tanpa aku sadari.. yaa, kesalahan yang membunuh cintaku untuknya. Aku tak menyalahkannya, tak akan pernah. Karena aku pun bersalah dalam hal ini, aku pun turut membantu membunuh perasaanku sendiri secara perlahan. Namun tanpa kami sadari..

Hingga akhirnya, hal demi hal yang kami lalui di akhir cerita ini, menyadarkanku tentang keadaan hatiku. Hati yang sebelumnya menyerukan namanya setiap saat, kini telah tiada. Binasa. Dan kami pun perlahan menyadari, cerita ini hampir sampai pada ujungnya. Tak peduli apapun yang kami lakukan untuk memperbaiki keadaan ini, untuk menghidupkan kembali hati penuh cinta untuknya yang telah mati ini, semua tak mampu mengubahnya.

Ya, hati untuknya itu telah mati... karena kami sendiri.
Dan yang telah mati, tak akan bisa dihidupkan kembali, setidaknya mungkin untuk saat ini.

Namun aku sangat bersyukur pada Tuhan, telah memberikan kami kesempatan untuk menciptakan cerita cinta yang begitu panjang dan indah ini. Aku bersyukur pada Tuhan, aku diberi kesempatan untuk mencintai sedalam itu. Aku juga bersyukur pada Tuhan, karena kami telah diberi jalan yang terbaik untuk kami masing-masing. Ya, masing-masing, bukan berdampingan lagi.

Dan, aku bersyukur kepada Tuhan untuk kamu, lelaki yang pernah mengisi hidupku sekian lama..
Lelaki yang dulu selalu ada disisiku, di baik dan buruk ku.
Maaf, jika aku bukan lagi sosok wanita yang dulu begitu kau puja, kau cinta. Tetapi aku yakin, suatu saat, yang terbaik untukmu akan datang..
Aku berharap Tuhan memberimu kekuatan dan keberkatan selalu, dan tak membiarkanmu merasakan setitikpun kesedihan. Karena kau adalah sosok yang telah membantu membentukku menjadi diriku yang sekarang. Diri yang kini dapat kubanggakan.

Berbahagialah, kekasih yang telah lalu..
Aku pernah amat mencintaimu, dan meski hati itu telah binasa, kau tetap salah satu lelaki luar biasa di mataku.

Ini... mungkin akhir dari sebuah cerita cinta.
Tapi yakinlah, ini hanyalah akhir sebuah chapter di hidup kita masing-masing. Jadi, mari kita melanjutkan kisah hidup kita masing-masing, meski kini tak lagi bersama.

Terima kasih! :)

Saturday, December 8, 2012

For That, Love, I Love You More. .

Love, you have no idea what you have done to me..
You have no idea how you affected me.

You stopped the rain in my sky, brought out the brightest sun
You let it snow in my world, yet you warmth me with your heart
You made my world spin so fast, but you make me stand still with the strength from our holding hands.

Love, you turned my world upside down, and at the same time you taught me how to know myself..
You love me for who I am, a woman I never thought I was.
A woman I thought so weak, who apparently could become so strong. .

Love, you are maybe not my everything
but you are a very special thing, that let me know how to love myself before anything else.

And for that, Love, I love you more. . .

Sunday, October 21, 2012

Lelaki Bermata Sendu

Lelaki bermata sendu, duduk diam termangu.
Entah berapa lama ia telah menunggu
entah harus berapa lama lagi ia akan menunggu.
Menunggu kembalinya kekasih hati
yang pergi membawa seluruh hatinya,
utuh. .
Utuh diberikan Lelaki bermata sendu itu.
Tulus, untuk kekasih hatinya,
Sang Gadis Matahari.
Yang pergi membawa sinarnya,
meninggalkan Lelaki bermata sendu dalam kegelapan
Gelap yang pekat, abadi, dan dingin..

Lelaki bermata sendu,
dengan penuh harap menanti kembalinya sang Gadis Matahari
Kembali dengan sinarnya,
kembali dengan hatinya,
kembali dengan kesiapannya untuk menghangati si Lelaki bermata sendu. . .
Hanya dia.


18 Oktober 2012

Wednesday, October 10, 2012

Rinduku

Rinduku pada bintang, dikala pagi menjelang
Rinduku pada birunya langit, dikala bulan terang menerangi malam
Rindu, yang tak dapat disampaikan. .
Kucoba bernyanyi megutarakan rasaku,
walau yang terdengar hanya nada-nada sendu
Kurayu bintang untuk menari,
namun ia menjauh menghindar
Tak berani ku coba warnai gelap malam dengan biru langitku,
takut.
Takut ia semakin memudar..
Rinduku pada hangatnya sinar mentari ketika ku terlelap,
Rinduku pada sejuknya embun pagi hari. .

Pelukis Langit

Izinkan aku melukiskan semburat awan pada biru langit pagi
biar mereka cerah mewarnai,
mengiringi langkahmu yang tak pasti.
Biarkanku memerahkan langit senja
hingga mereka dapat menghangatkan,
seiring datangnya angin malam..
Pintalah aku menerangi langit malam dengan bintang
supaya mereka dapat menuntunmu.
Memang langit kan selalu menyertai,
diam sendiri.
Tapi tak akan kubiarkan langit kosong,
sendiri menyelimuti bumi.
Aku memang tidaklah seindah mentari maupun bumi,
namun biarkanku menjadi pelukis langit
yang senantiasa dapat menemani dan mengindahkannya. . .


27 September 2012

Thursday, September 27, 2012

Kebenaran Yang Tertera (EP)

Kebenaran yang tertera
terjebak dalam siklus tak berujung
tersamarkan jelaga pikiran yang berkabut.

Pria yang kikuk, terjerembab
Wanita yang tersasar, melayang
menyelam dalam buih yang tak berdasar
tertekan dalam kepastian tak pasti.

Bukanlah kotak yang kau cari
bukanlah lagi bentuk geometri yang coba kau kenali.
Tak perlu dijamah,
dikecap, diraba, didengar.
Tak perlu dimengerti.
Cukup ada. . .

(Written by EP, Sept 21 2012)

Kisah Gadis Kecil Dan Burung Bersayap Patah

Makhluk kecil itu menatap langit penuh harap
menunggu waktu kapan ia dapat mencapainya.
Burung kecil dengan sayap yang patah,
namun dengan semangat yang tak pernah melemah.
" Akan datang angin yang membawaku terbang.
Akan datang awan yang akan menuntunku pulang "

Gadis kecil itu menatap sang burung penuh takjub
menanti kapan ia akan terbang melayang.
" Burung kecil yang lemah, dengan sayap yang patah "
Sebelum gadis itu melihatnya, sebelum gadis itu menyadarinya.
Sayap kecilnya lah yang patah,
Tubuh kecilnya lah yang tak mampu terbang.
Namun harapnya tak pernah pergi,
Angannya tak pernah lari.

Burung kecil dan gadis itu pun termenung menatap langit
menyandarkan punggung mereka di sejuknya rerumputan
" Biar langit menampung harapku, biar rerumputan menopang bebanku "
Dan mereka pun terbang, bersama angan,
Melayang. .

Tuesday, September 25, 2012

Peleburan Warna

Biar kutumpahkan biru ku ke lautan
Biar kutuangkan merah ku ke langit senja
Biar kuluapkan hitam ku ke langit malam.
Bila tak begitu, tak akan ku tahu warna ku. .
Bila ku tak begitu, yang ada hanya abu-abu.
Jadi biar ku lepaskan hijauku pada padang rumput
Biarkan tenangku bebas mewarnanya.
Hingga nanti ku kan tahu, warna apa sebenarnya aku. .

Langkah Ku, Milik Ku.

Hitam tak berarti gelap
Putih pun tak selalu terang.
Tak berarti ku harus sembunyi dalam bayang,
Tak berarti ku harus terperangkap dalam gelap.
Aku kan tentukan langkah ku.
Aku yang tentukan pula arahku.
Tiada gelap maupun terang yang dapat menarikku
Tiada bayang yang dapat menyembunyikanku.
Aku,
melangkah untukku sendiri. .

Waktu Tak Akan Menunggu

Bukan hujan ingin mengkhianati matahari.
Bukan gelap ingin membayangi cahaya.
Hanya waktu berjalan tanpa henti, tak pernah lelah berlari.
Memang waktu dapat mengkhianati, membayangi, menyakiti
Tapi pada saatnya nanti, waktu pula yang akan menyembuhkan. .

Saturday, July 14, 2012

Aku Ada Di Hadapanmu, Maira.. (Part 2)

Sudah enam bulan lebih sejak Krisna terakhir bertemu Maira. Memang, sejak Krisna melanjutkan kuliahnya di Jogja dan Maira melanjutkan kuliahnya di Bandung, mereka jadi jarang bertemu. Apalagi Krisna memang hanya pulang ke Jakarta setiap liburan semester.


13 Juli adalah ulang tahun Maira. Kebetulan pula, hari itu Krisna akan pulang ke Jakarta. Ia tidak sabar untuk bertemu dengan Maira. Berbagai macam hadiah sudah ia siapkan untuk gadis mungil kesayangannya itu, termasuk patung dari clay berbentuk persis seperti Maira yang khusus ia buat sendiri setelah ia mempelajarinya di kampus.

 Krisna telah jauh-jauh hari mengingatkan Maira bahwa ia akan ada di hari ulang tahunnya. Tentu saja Maira senang bukan main. Dari ceritanya, Maira sepertinya sedang tidak memiliki pacar. Bulan April lalu, Maira putus dari Gema, pacar ketiganya sejak kuliah dua tahun yang lalu. Seperti biasa, Maira selalu memacari lelaki yang salah. Kali ini, pacarnya menduakannya, dan mereka pun langsung berpisah. Karena itulah, Krisna pun turut bersemangat untuk merayakan ulang tahun Maira hanya bersama dia dan keluarga Maira.

 Krisna beranjak menuju ke rumah Maira begitu ia tiba di Jakarta. Orang tuanya telah ia beritahu sebelumnya, dan mereka maklum, karena mereka tahu betapa sayangnya putra sulung mereka itu kepada Maira. Dan toh nanti juga Krisna akan lebih lama menghabiskan waktu dirumah..

 Sesampainya di rumah Maira, keadannya sangat lengang. Krisna sedikit bingung, karena biasanya teman-teman Maira lainnya pasti akan berkumpul dirumah Maira untuk merayakan ulang tahunnya. Maira memang tidak pernah merayakan ulang tahunnya di kafe atau restoran, karena masakan ibunya serta kue buatan Krisna jauh lebih lezat dibandingkan harus membeli.


"Siang, Tante Reni.." sapa Krisna pada ibu Maira yang sedang bersantai di teras rumah.
"Wah, nak Krisna! Lama sekali tidak bertemu ya, Tente sampai kangen.. Gemukan ya kamu sekarang!"
"Hehe, maklum Tan, anak kosan, kerjaannya cuma makan. Ngomong-ngomong Maira-nya mana Tante? Kok tumben sudah sore gini belum ada yang ngumpul?"
"Iya nih Kris, Maira masih di jalan pulang dari Bandung. Terjebak macet sepertinya. Padahal Tante sudah masak dari pagi lho.. Tante pikir dia pulang pagi tadi. Kamu tunggu saja ya di kamar Maira," ujar Tante Reni sedikit kecewa.
"Ngga apa-apa Tante, aku ikut siapin semuanya ya. Kebetulan aku bawa beberapa hiasan untuk dekorasi, Maira pasti suka,"
"Oh ya sudah silahkan kalau tidak merepotkan. Tante mau siapkan kuenya dulu. Seharusnya sih satu jam lagi Maira sampai.."


Sudah dua jam Krisna menunggu Maira pulang. Ia sudah berkali-kali mengirimkan SMS ke Maira, mengatakan ibunya dan dia telah selesai menyiapkan semuanya dirumah. Namun, tidaka ada balasan satupun dari Maira. Mereka pun khawatir.

"Aduh, Maira ngga kenapa-kenapa di jalan kan ya? Kok ngga sampai-sampai?" ujar Tante Reni khawatir.
"Biar Papa telepon ya Ma," ujar Om Denny, papa Maira.
"Ngga usah Om, biar Krisna saja." Krisna pun lalu menelepon Maira. Setelah lima kali mnelepon, akhirnya Maira pun mengangkat teleponnya.


"Mai, kamu dimana? Aku, Om, sama Tante sudah nungguin daritadi. Katanya kamu sudah empat jam yang lalu berangkat dari Bandung, kok ngga sampai-sampai?"
"Aku emang berangkat empat jam yang lalu, naik bis, Kris.." jawab Maira lunglai.
"Kamu kenapa lemas begitu? Terus kenapa belum sampai? Mau aku jemput di terminal jam berapa?"
"Ngga apa-apa kok, aku tadi ketiduran di bis. Aku..ngga pulang ke Jakarta, Kris."

"Lho, terus kamu kemana?!" Krisna mulai kesal, namun ia juga khawatir karena tidak biasanya Maira pergi kemanapun tanpa bilang ke orang tuanya.
"Aku lagi menuju Semarang.." terdengar suara Maira mulai memelas mendengar Krisna marah. Ia tahu, sahabatnya itu sangat menyeramkan jika marah, walaupun sebelumnya Maira tidak pernah kena marah oleh Krisna.


"SEMARANG?!? Sama siapa?! Dan kenapa Om Tante ngga tahu?" nada bicara Krisna mulai tinggi. Untungnya, ia sudah pindah ke halaman rumah supaya papa dan mama Maira tidak mendengar percakapan mereka.
"Aku sama Gema..tapi kamu jangan bilang ke Mama Papa ya. Bilang saja aku sama temen-temen kosan. Dia mau kasih surprise buat aku disana, Kris. Ini penting banget buat aku, kamu ngertiin ya, Aku harus tutup teleponnya. Aku janji nanti begitu sampai Semarang aku telepon Mama Papa. Maaf ya Kris. Dah"

Klik. Begitu saja Maira menutup teleponnya sebelum Krisna sempat berkata apapun. Gema? Pria yang sudah menduakannya? Dan sekarang mereka keluar kota BERDUA?! Maira sudah keterlaluan, pikir Krisna. Ia pun memutar otak bagaimana caranya membertiahu orangtua Maira dimana keberadaan Maira sekarang. Tentu saja, sekecewa apapun ia pada Maira, ia tidak akan memberitahu mereka kalau Maira pergi bersama mantan pacarnya. Krisna sedih melihat ekspresi Tante Reni, tak mau berlama-lama, ia pun pamit pulang.

•••

Tiga minggu sudah Krisna berlibur di Jakarta, dua hari lagi ia harus pulang ke Jogja karena perkuliahan akan segera dimulai. Namun, ada yang terasa kurang di liburan ini..ia belum juga bertemu Maira. Sejak pulang dari Semarang dua minggu yang lalu, setiap ia datang ke rumah Maira, gadis itu selalu tidak ada. Pergi dengan Gema, kata Mamanya. Akhirnya, setelah empat kali kesana namun gagal menemui Maira, Krisna pun menitipkan saja hadiah-hadiah ulang tahun Maira yang telah ia siapkan kepada ibunya.

Hari ini Krisna ingin bersantai sejenak di kafe favoritnya dan Maira sambil membaca buku yang baru ia beli. Baru 10 menit ia duduk, Maira masuk dari pintu depan. Wajahnya tampak lesu.

"Ngapain kamu disini? Oh, pasti mau kencan sama Gema ya?" tanya Krisna sinis.
"A-aku..aku tadi ke rumah kamu. Katanya kamu pergi. Aku tebak kamu pasti kesini." jawab Maira takut-takut.
"Ada angin apa kamu cari aku? Tiga minggu aku disini, kamu cuek aja tuh."
Maira terdiam. Ia duduk di kursi di hadapan Krisna. Dan ia menunduk lesu.
"Gema selingkuh lagi?" tebak Krisna. Ia pun melihat air mata jatuh di pipi Maira.
"Dia..ngga selingkuh. Karena ternyata sebulan ini, dia ngga menganggap kalau kita pacaran lagi. K-kita cuma teman dekat, kata Gema. Dan dia berhak j-jalan sama cewek manapun.. Aku ngga nyangka..aku ngga nyangka bisa ketipu lagi sama dia.. Apa salahku?" Maira pun menangis, namun ia berusaha sekuat tenaga menahannya supaya tidak menarik perhatian pengunjung kafe yang lain.

Kamu ngga bisa menghargai orang-orang yang sudah jelas selalu ada buat kamu, demi mengejar orang yang sama sekali ngga peduli sama kamu.



"Kamu hanya terlalu percaya sama orang lain, Mai, sampai mudah kasih mereka kesempatan kedua, tanpa syarat apapun. Mau tahu salah kamu yang sebenarnya apa? Kamu ngga bisa menghargai orang-orang yang sudah jelas selalu ada buat kamu, demi mengejar orang yang sama sekali ngga peduli sama kamu. Dan begitu orang yang kamu kejar mencampakkan kamu, kamu balik lagi ke orang-orang yang sudah kamu tinggalin, tanpa mikirin apa yang mereka rasain.."

Maira tertegun mendengar ucapan Krisna.

"Aku bukan bonekamu Mai, yang bisa kamu tinggalkan dibawah kasurmu begitu kau punya mainan baru, lalu bermain denganku lagi begitu mainan barumu itu rusak. Aku punya perasaan.. Orangtua mu pun punya perasaan. Apa kamu pernah berpikir bagaimana perasaan mereka kalau mereka tahu kamu ke Semarang hanya berdua dengan Gema kemarin?"

"Aku sudah lelah, Maira..tidak dianggap sebagai sahabat oleh kamu, tapi seperti buku diary yang hanya merasakan sedihmu, tapi tidak pernah jadi bagian dari bahagiamu. Aku juga yang terlalu bodoh, karena terlalu sayang sama kamu, sehingga bertahun-tahun bertahan seperti ini, sampai kamu justru terlalu nyaman dan tidak memandangku sebagai lelaki. Tapi cukup sampai disini saja Mai.. Cukup."

Maira terdiam. Ia bahkan sampai berhenti menangis saking kagetnya mendengar ucapan Krisna. Ia tidak sanggup menatap mata Krisna.

"Ayo bangun, aku antar kamu pulang.." ucap Krisna lembut. Sepanjang perjalanan, mereka berdua terdiam. Setelah sampai dirumah Maira, Krisna pun bergegas pulang. Maira ingin sekali berlari mengejar sahabatnya itu, namun ia tidak sanggup...

(Bersambung)