Dipinggir jalan itu ku duduk menunggu
Di jalan, di persimpangan Dago.
Menunggu kemunculan lelaki berjenggot tipis, yang akan datang memenuhi janji.
Kupasang mataku ke setiap sudut jalan,
tak sabar menunggu kemunculannya.
Si lelaki berjenggot tipis dengan kemeja bututnya.
Hujan mengiringi penantianku senja ini,
menyembunyikan sinar malu-malu matahari yang beranjak pergi.
Langit mulai gelap,
namun di salah satu sudut jalan itu semua terlihat begitu terang.
Di sudut jalan itu di persimpangan Dago,
si lelaki berjenggot tipis itu muncul...
muncul menepati janjinya.
(Dago, 18 Desember 2012)
Tuesday, May 21, 2013
Friday, May 17, 2013
Yang Tak Bernama
Kita memang sepasang kekasih.
Tapi kita tidak 'pacaran', seperti banyak tebakan orang. Kita menolak untuk dibilang 'pacaran' sebuah status yang dibuat masyarakat untuk sepasang insan manusia yang saling menyayangi dan memutuskan untuk saling berbagi.
Memang, nyatanya kita sedang saling berbagi...berbagi sedikit demi sedikit waktu yang ada di hidup kita, berbagi kisah dan menjalin cerita bersama, berjalan berdampingan, walau dalam jalur yang berbeda.
Ya, kita memang sepasang kekasih..
Kenapa kita begitu keras menolak dikatakan 'pacaran'?
Kamu dengan alasanmu, aku dengan alasanku.
Aku yang ingin belajar memberi, tanpa sedikitpun meminta.
Bahkan, tanpa sedikitpun berharap.
Aku yang sedang mempelajari, apa sesungguhnya 'cinta tanpa karena'. 'Pacar' ku atau bukan, ketika aku mencintamu, aku tak butuh alasan.. dan aku tak butuh alasan juga untuk tetap mencintamu dan mencurahkan segala kasih sayang ini.
Aku tak butuh alasan. Dan tak ingin pula alasan itu muncul tanpa disengaja.
Karena menurut pengalamanku yang 'berpacaran' bertahun-tahun sebelum kita bersama, status 'pacar' itu justru memunculkan terlalu banyak alasan untuk memberi, dan mengharapkan timbal-balik.
Aku tak mau seperti itu (lagi)..
Aku mau tulus menyayangimu, tak peduli status kita, bahkan aku akan tetap menyayangimu meski kamu anggap aku tak ada.
Dan kamu tak ingin terikat. Sama seperti aku yang tak mau diikat.
Kita tak ingin diatur bagaimana cara kita saling menyayangi.
Ada yang bilang kita ini takut komitmen.. tapi mereka tidak tahu, kita pun saat ini masing-masing sedang menjalani sebuah komitmen.
Kamu dengan komitmenmu dengan rasamu,
dan aku dengan komitmenku dengan rasaku..
Kita akhirnya saling mengikat dengan satu yang begitu kita senangi, kebebasan.
Aku bebas menyayangimu dengan caraku.
Kamu pun bebas menyayangiku dengan caramu.
Berjalan ke arah yang sama, akhirnya kita sepakat untuk berjalan berdampingan, meski kita tetap berada di jalur yang berbeda.
Dan meski kita tak tahu dimana persimpangan yang akan memisahkan kita..
Kita memang sepasang kekasih. Kita adalah life partner. Pasangan hidup. Karena saat ini, detik ini di hidupku, kamu menemaniku. Dan saat ini, detik ini, aku pun mengisi hidupmu.
Tapi kita tidak 'pacaran'. Kita menolak disebut 'pacaran'.
Lalu apa namanya hubungan ini?
Ah, menurutku manusia belum sanggup berikan hubungan ini nama...apa perlunya pula sebuah nama?
Toh kita menikmati menjalaninya.
Toh kita tetap saling mencinta.
Dan toh, kesepakatan itu tetap kekal detik ini...
(Bandung, 17 Mei 2013)
Friday, May 3, 2013
Noda Samar Dalam Cahayaku
Hitam di langit pagiku tak perlu kau tahu sebabnya.
Malah, ku usahakan agar kau tak perlu melihatnya sama sekali..
kau tak perlu tahu ia bahkan ada.
Cukup kau lihat, indah sinar mentariku.
Bukan ku tak mau berbagi warnaku padamu, bukan ku tak percaya kau akan mengerti.
Aku hanya ingin kau tak ingkari hangatnya mentari pagi
Aku hanya ingin kau selalu dapat nikmati indah biru langitku
Indah dan tentramnya duniaku, yang mungkin akan hapuskan gelap duniamu.
Jadi tak perlu kau tahu, noda yang mengotori cantiknya alamku.
Karena tugasku, inginku, butuhku, adalah untuk indahkan duniamu selalu
bahkan ketika tak ada setitikpun warna tersisa didalamnya...
(Bandung, 1 May 2013)
Malah, ku usahakan agar kau tak perlu melihatnya sama sekali..
kau tak perlu tahu ia bahkan ada.
Cukup kau lihat, indah sinar mentariku.
Bukan ku tak mau berbagi warnaku padamu, bukan ku tak percaya kau akan mengerti.
Aku hanya ingin kau tak ingkari hangatnya mentari pagi
Aku hanya ingin kau selalu dapat nikmati indah biru langitku
Indah dan tentramnya duniaku, yang mungkin akan hapuskan gelap duniamu.
Jadi tak perlu kau tahu, noda yang mengotori cantiknya alamku.
Karena tugasku, inginku, butuhku, adalah untuk indahkan duniamu selalu
bahkan ketika tak ada setitikpun warna tersisa didalamnya...
(Bandung, 1 May 2013)
Manusia dan Pikirannya
Aku ini manusia
manusia berakal sehat dan memiliki pikiran.
Pikiran yang bebas, yang berlayar tanpa batas, sesukanya.
Aku ini bebas.
Kalau aku tak bebas, kenapa akal ini kumiliki untuk jalani hidup?
Kalau nyatanya aku terikat pada sebuah pasak, kenapa aku harus belajar berjalan?
Hanya untuk mencapai tujuan tertentu yang makhluk lain inginkan untukku?
Sampah.
Kalau begitu aku ini seperti sampah. Diletakkan disana-sini untuk akhirnya berakhir di pembuangan yang orang tuju.
Hanya bisa diam, tak bisa menolak.
Jika memang begitu, kenapa aku tidak usah diberi kehidupan saja sekalian?
Hidup tapi penuh harapan palsu,
diarahkan sesuka yang makhluk itu mau.
Tapi aku tak sebodoh itu..
Kan sudah kubilang, aku ini manusia?
Manusia yang berakal pikiran nan bebas.
Coba saja kalau kau mau mengikatku,
aku pun mau tahu,
seberapa lama rantai dambaanmu itu mampu menahanku.
(Bandung, 01 May 2013)
manusia berakal sehat dan memiliki pikiran.
Pikiran yang bebas, yang berlayar tanpa batas, sesukanya.
Aku ini bebas.
Kalau aku tak bebas, kenapa akal ini kumiliki untuk jalani hidup?
Kalau nyatanya aku terikat pada sebuah pasak, kenapa aku harus belajar berjalan?
Hanya untuk mencapai tujuan tertentu yang makhluk lain inginkan untukku?
Sampah.
Kalau begitu aku ini seperti sampah. Diletakkan disana-sini untuk akhirnya berakhir di pembuangan yang orang tuju.
Hanya bisa diam, tak bisa menolak.
Jika memang begitu, kenapa aku tidak usah diberi kehidupan saja sekalian?
Hidup tapi penuh harapan palsu,
diarahkan sesuka yang makhluk itu mau.
Tapi aku tak sebodoh itu..
Kan sudah kubilang, aku ini manusia?
Manusia yang berakal pikiran nan bebas.
Coba saja kalau kau mau mengikatku,
aku pun mau tahu,
seberapa lama rantai dambaanmu itu mampu menahanku.
(Bandung, 01 May 2013)
Karena Kekekalan Hanya Milik Detik Ini
Semakin hari, semakin banyak yang saya alami, semakin banyak yang saya pelajari, saya mulai memahami betapa di dunia ini tiada yang pasti. Mungkin beberapa penganut agama atau kepercayaan apapun yang kuat akan membantahnya, dan mengatakan bahwa beberapa hal telah dengan pasti tertulis oleh Tuhan dalam suratan hidup manusia, dan pasti terjadi. Disini saya tidak akan menyalahkan pendapat orang lain dan membenarkan pendapat saya, saya hanya ingin mengatakan, tidak demikian yang saya percayai...
Hari demi hari, saya sedikit demi sedikit belajar untuk semakin menghargai waktu. Saya belajar untuk menjalani hidup saya sebaik mungkin, seakan tidak ada esok hari. Bukan berarti saya lalu boleh sesuka hati melakukan yang saya mau tanpa memperdulikan orang - orang di sekitar saya terutama orang - orang yang saya sayangi, tapi justru saya harus belajar lebih menghargai mereka, menyayangi mereka segenap hati, menjaga mereka, dan selalu berusaha membagi kasih sayang saya agar mereka tahu betapa mereka sangat disayangi. Karena belum tentu ada esok hari, yang akan mempersilahkan saya melakukan apa yang belum sempat atau belum mau saya lakukan hari ini.
Tak ada jaminan akan esok hari tiba untuk saya, atau orang - orang yang saya sayangi. Tak ada jaminan pula rasa sayang saya untuk mereka ini masih bersisa esok nanti. Jadi sebelum waktu mengkhianati, sebelum rasa hilang tak berbekas di hati, saya ingin mencurahkan segalanya saat ini, detik ini. Detik yang kusebut kekal ini. Ini mungkin keegoisan terbesar saya..
Begitu banyak hal yang sangat indah yang terjadi setiap harinya di dalam hidup saya. Kecil, besar, bukan sesuatu yang penting. Bila itu indah, ya tetap indah. Memang, terkadang saking indahnya, saya seakan tidak mau melepaskan hal tersebut.. saya ingin terus mengalaminya, menjalaninya, hanyut di dalamnya. Lalu saya teringat, hanyut dalam kenangan? Berarti saya tak punya pegangan? Bagaimana kalau nanti saya lelah terapung-apung dalam kenangan yang telah lalu, kemana saya harus menyelamatkan diri? Saya pun masih sering menyadarkan diri, berteriak dalam kepala yang semrawut ini, "Hey, jangan larut pada apa yang pasti lalu! Bahkan yang saat ini merupakan yang terindah, belum tentu akan selamanya menjadi yang paling. Akan ada satu titik dimana mau tak mau predikat itu harus kau lepas! Yah, kecuali kau mati di detik berikutnya.."
Ya, yang saat ini adalah yang 'ter-' belum tentu akan menjadi yang 'ter-' lagi di hari berikutnya, jam berikutnya, bahkan mungkin detik berikutnya. Kenangan, memang abadi, disaat ia sedang terjadi, di detik yang kusebut kekal ini. Tapi... detik berikutnya akan tiba. Menit pun berlalu. Dan kenangan akan menjadi kenangan.
Dari berbagai hal yang saya ocehkan sesuka hati diatas, saya hanya berusaha mengambil kesimpulan, lakukan apa yang kamu mau dan bisa lakukan hari ini, saat ini, jangan sampai menyesal di keesokan hari yang bahkan belum tentu datang. Dan tiap kenangan, tiap kejadian, baik indah maupun buruknya, nikmatilah. Karena tanpa ada yang buruk itu, kita tak akan tahu rasanya indah. Dan tanpa ada yang indah, kita tak akan tahu ada cahaya di setiap ujung lorong. Hargai tiap moment, karena mereka hanya kekal ketika terjadinya. Hargai yang telah menjadi kenangan, karena mereka telah menuntun kita untuk berada di tempat kita sekarang...
Tuesday, April 16, 2013
Kencan Mentari dan Langit
Sore hari ketika langit berkencan dengan matahari,
bercengkrama mencipta kecerahan yang menyelimuti bumi
Dedaunan kuning menari-nari riang mengiringi desiran sejuk
angin yang lewat sesekali.
Hamparan putih awan layak berkejaran kesana kemari
menikmati kesempatan memiliki langit biru yang jarang
terlihat belakangan ini,
memiliki langit biru sebagai latar untuk dihiasi.
Semakin erat langit bercengkrama dengan mentari
memancarkan sinar yang kadang begitu terik, yang dikulit terasa menyelekit.
Tercium sekelibat harum buah persik,
terdengar pula dentingan pisau dan garpu yang berisik.
Lalu langit mulai gelap.. dan turun hujan rintik
Menandakan akhir kencan matahari dan langit.
Setidaknya untuk sore ini…
(Dago, 2 Januari 2013)
Wednesday, March 13, 2013
Malaikat Bersayap Patah
Langit tetiba kelabu, mengiringi kesedihan malaikat
sang malaikat bersayap patah.
Sayap megahnya yang biasa menyelimuti bumi dengan cerah warnanya
yang biasa menghangatkan bumi dengan kilaunya.
Kini sayap itu patah, meninggalkan bumi gelap gulita..
Dan manusia tertinggal dalam gelap yang mencekam, dalam dingin yang menusuk.
Mereka bertanya pada tuhan mereka,
"akankah Kau biarkan kami sendiri dalam gelap ini? Kan kau biarkankah kami mati karena dingin ini?"
Tuhan lalu menjawab,
"Tak hanya satu malaikat kucipta, walau hanya satu yang nantinya abadi mengiringi dunia. Bila kini hanya gelap dan dingin tersisa, toh nantinya kau akan lebih menghargai malaikat yang datang selanjutnya"
Manusia pun girang menunggu
menunggu hangat dan terang dari malaikat lainnya, malaikat dengan sayap megah yg utuh..
Yang sanggup mengiringi mereka hingga akhir dunia.
Dan disitu, di pojok semesta itu, terduduk malaikat bersayap patah.
Yang dilupakan oleh dunia karena tak lagi sanggup bersinar,
yang bahkan diabaikan oleh tuhannya
yang menciptanya dengan sayap yang lemah.
Disitu ia duduk,
berharap seorang saja akan menghampiri, dan mengajaknya bicara..
(Bandung, 13 Maret 2013)
Thursday, January 10, 2013
Dandelion, Si Gadis Berambut Pirang
Dandelion.
Si gadis berambut pirang berwajah riang
Terbang melayang mengejar angin
mencari kasihnya yang hilang
Tersesat di tengah hutan pinus yang lebat dan gelap
Tenggelam tersapu deburan ombak
Hanyut terbawa aliran sungai yang deras.
Dandelion.
Si gadis berambut pirang, yang kini tak lagi riang
Tak mampu berdiri menapakkan kaki, hanya mampu membiarkan angin menerbangkannya tinggi
Tinggi, sangat tinggi...
menanti saat angin lelah dan menghempaskannya jatuh ke bumi.
Dandelion,
terjebak di langit luas
berharap menemukan kasihnya yang akan menangkapnya
kapanpun angin menghempaskannya.
Dandelion,
simbol cinta penuh harapan..
(18 Oktober 2012)
Si gadis berambut pirang berwajah riang
Terbang melayang mengejar angin
mencari kasihnya yang hilang
Tersesat di tengah hutan pinus yang lebat dan gelap
Tenggelam tersapu deburan ombak
Hanyut terbawa aliran sungai yang deras.
Dandelion.
Si gadis berambut pirang, yang kini tak lagi riang
Tak mampu berdiri menapakkan kaki, hanya mampu membiarkan angin menerbangkannya tinggi
Tinggi, sangat tinggi...
menanti saat angin lelah dan menghempaskannya jatuh ke bumi.
Dandelion,
terjebak di langit luas
berharap menemukan kasihnya yang akan menangkapnya
kapanpun angin menghempaskannya.
Dandelion,
simbol cinta penuh harapan..
(18 Oktober 2012)
Sunday, December 30, 2012
Canda Sunyi Samudera
Kubiarkan pasir putih masuki sela jari-jari kakiku
kudiamkan buih ombak jahil menggelitik
kusandarkan punggung lelahku pada hangatnya pasir putih.
Terbuai aku oleh sepoi angin
Tersihir aku oleh deburan ombak
Terhipnotis aku oleh semburat indah matahari senja.
Laut yang luas didepan mata, diam tak bersuara
seakan tak ada yang dapat mengusiknya..
Hanya sesekali angin datang menggoda, menggelitik, mengajaknya bermain
Seperti bocah kecil, laut pun bergerak mengikuti
seirama dengan angin yang jahil.
Mereka berdansa bersama seakan tak ada yang mampu mengusiknya
Dan aku terpana, mengamati..
27 September 2012
kudiamkan buih ombak jahil menggelitik
kusandarkan punggung lelahku pada hangatnya pasir putih.
Terbuai aku oleh sepoi angin
Tersihir aku oleh deburan ombak
Terhipnotis aku oleh semburat indah matahari senja.
Laut yang luas didepan mata, diam tak bersuara
seakan tak ada yang dapat mengusiknya..
Hanya sesekali angin datang menggoda, menggelitik, mengajaknya bermain
Seperti bocah kecil, laut pun bergerak mengikuti
seirama dengan angin yang jahil.
Mereka berdansa bersama seakan tak ada yang mampu mengusiknya
Dan aku terpana, mengamati..
27 September 2012
Perangkap Semu
Terhentak lalu ku terbangun.
Ku coba membuka mata, namun hanya kegelapan yang ada
Terdengar suara tawa bahagia.
Tunggu...itu suaraku!
Tapi disini ku tak tertawa.. disini ku diam tak bergerak.
Lalu darimana datangnya suara itu?
Kemudian ku dengar suara tangis,
tangisanku.
Darimana datangnya tangis itu?
Tiba-tiba kurasakan amarah yang meledak.
Amarahku.
Darimana munculnya amarah itu?
Bagaimana bisa ku mendengar sendiri emosiku, ketika aku sendiri tak tahu dimanakah aku? Bagaimana caranya ku keluar? Kemanakah ku harus melangkah?
Aku tak peduli...ku kan terus berlari
berlari berusaha keluar dari sini.
Namun, tak adakah yang mau menuntunku?
Bandung, 21 September 2012
Ku coba membuka mata, namun hanya kegelapan yang ada
Terdengar suara tawa bahagia.
Tunggu...itu suaraku!
Tapi disini ku tak tertawa.. disini ku diam tak bergerak.
Lalu darimana datangnya suara itu?
Kemudian ku dengar suara tangis,
tangisanku.
Darimana datangnya tangis itu?
Tiba-tiba kurasakan amarah yang meledak.
Amarahku.
Darimana munculnya amarah itu?
Bagaimana bisa ku mendengar sendiri emosiku, ketika aku sendiri tak tahu dimanakah aku? Bagaimana caranya ku keluar? Kemanakah ku harus melangkah?
Aku tak peduli...ku kan terus berlari
berlari berusaha keluar dari sini.
Namun, tak adakah yang mau menuntunku?
Bandung, 21 September 2012
Friday, December 28, 2012
Kisah Penutup Tahun
Menjelang akhir tahun, tidak terasa.. hmm, sebenarnya sih tidak juga. Beberapa bulan belakangan semua memang terasa berjalan begitu cepat, namun ada juga beberapa bagian yang terasa berjalan amat lambat, yang membuat saya tersiksa sepanjang harinya, ingin hari-hari itu cepat berlalu. Hari-hari yang dulu saya pandang sulit, seperti tak ada akhirnya. Tapi, semua memiliki akhir.. Sama seperti tahun ini, 2012, yang akan berakhir besok.
Bisa dibilang, selama 22 tahun saya hidup di dunia ini, tahun ini merupakan tahun yang amat penuh pembelajaran dan pengalaman, serta merupakan salah satu tahun tersulit namun juga terindah yang pernah saya lalui.
Pada pertengahan tahun, dimulai proses pembelajaran itu. Muncul satu sosok yang begitu saya kagumi, sosok yang lebih berbeda dibanding siapapun yang pernah saya kenal. Yang memancing saya untuk belajar lagi, dan terus belajar.. Tanpa perlu ia mendoktrin saya, ia memancing keluar semua isi otak ini yang dulu saya sembunyikan rapat-rapat. Dia juga mengajari saya banyak hal, hal-hal yang dahulu sulit untuk saya lakukan, bahkan untuk saya pikirkan..
Dipertengahan tahun juga, saya ditinggal salah satu sahabat terbaik saya ke Ibukota untuk mencari nafkah, karena ia telah menyelesaikan pendidikannya di kampus kami, dan telah memasuki jenjang berikutnya: menjadi pekerja. Sangat sulit ditinggal olehnya, karena dia merupakan salah satu orang yang selalu bisa mendengarkan celoteh saya, apapun itu. Yang selalu siap sedia menemani saya, yang selalu mampu menghibur saya. Salah satu orang yang paling saya percayai.. Yah meskipun Bandung-Jakarta itu dekat, tapi pada awalnya sulit menerima kenyataan bahwa saya tidak bisa menemui dia setiap hari lagi.
Dan kemudian, datanglah masa-masa tersulit. Masa yang begitu menyiksa, bukan hanya saya, namun juga orang disekitar saya.. Terutama mantan kekasih saya, yang sampai beberapa bulan yang lalu masih menjadi kekasih saya. Pria yang ada disisi saya setiap saat, yang terkena dampak paling besar atas perubahan yang terjadi pada saya dalam waktu amat singkat.
Dimulai dari munculnya sosok yang saya sebut pertama kali tadi, sosok yang saya kagumi dan membuat saya haus untuk terus belajar. Sosok yang akhirnya membuat saya jatuh hati...disaat saya masih berkomitmen dengan kekasih saya saat itu. Ironis. Karena saya yang dulu adalah saya yang sangat skeptis dan benci menduakan, apalagi menduakan hati. Hingga akhirnya, saat itu, saya membenci diri saya sendiri.. Sampai saya sadar, saya tidak mendua hati. Ternyata entah sejak kapan, saya tidak lagi merasakan cinta seperti yang dulu saya rasakan terhadap kekasih saya saat itu.
Hingga pada akhirnya kami mengalami 2 bulan tersulit dalam masa kami berpacaran selama 5,5 tahun. Betapa banyak perubahan saya yang begitu cepat yang membuat kekasih saya saat itu kaget, betapa banyak pemikiran saya yang dahulu saya coba sembunyikan dan akhirnya ia tahu, dan betapa ia berusaha sekuat tenaga untuk merebut hati saya kembali.. Namun ternyata, memang sudah disitu akhirnya. Akhir dari hubungan kami, akhir dari cerita cinta yang telah lama kami tulis bersama. Hati ini tidak bisa dibohongi. Dan pada akhirnya, saya terlalu lelah untuk membohongi hati saya sendiri..
Sulit, melihat orang yang begitu mencintai saya dengan segenap hatinya harus terluka karena saya. Tapi akan lebih sulit untuk saya, jika saya terus memaksa dan tidak jujur akan perasaan saya. Saya yakin, saat itu hingga saat ini, bahwa yang terbaik untuk dia, untuk saya, untuk kami, adalah berpisah.
Lalu dimulailah hidup saya yang baru...yang benar-benar berbeda dari 6 tahun belakangan.
Sosok itu, selalu ada. Membimbing, menemani, mengajarkan. Ia mengajarkan saya betapa pentingnya menghargai diri sendiri, menghargai orang lain. Ia membuat saya ingin membuka diri saya seutuhnya, diri yang dulu saya anggap hina, namun ternyata begitu luar biasa.
Saya menjadi lebih berani menjadi diri saya apa adanya, tanpa harus menyakiti orang sekitar. Saya lebih berani melangkah, melangkah untuk diri sendiri, karena saya tahu bahwa perjalanan hidup saya, hanya sayalah yang menjalankan. Sosok itu, sosok yang tidak menyadari betapa luar biasanya ia di mata saya..
Jujur, kini, saya merasa lebih ringan melangkah. Lebih lega bernafas. Lebih leluasa berpikir. Saya tidak pernah merasa senyaman ini terhadap diri saya sendiri. Tidak pernah begitu bersyukur terhadap diri saya, hidup saya, dan orang-orang di sekitar saya. Termasuk mereka di masa lalu saya.
Dan dia, sosok yang kini menjadi pendamping hidup saya saat ini (bukan pacar, tetapi pendamping), adalah sosok yang cukup besar andilnya dalam membantu saya menjadi saya yang sekarang. Sosok yang saat ini, detik ini, begitu saya cintai. Dan untuk tahun ini, kehadirannya di hidup saya adalah yang paling saya syukuri..
Dan untuk harapan tahun depan. Hmm, saya sudah mulai belajar untuk tidak menaruh harapan apapun, kecuali mungkin untuk diri saya sendiri.. Saya hanya berharap, saya tidak akan pernah berhenti belajar dan tidak pernah berhenti jujur pada diri sendiri. Untuk sisanya? Biarkan hari esok selalu menjadi misteri yang menyenangkan, yang membuat saya bangun tiap paginya dengan bersemangat untuk memecahkan misteri tersebut :)
Terima kasih, tahun penuh pembelajaran.
Dan terima kasih, Pria 2012..saya cinta kamu saat ini.
Have a great holiday, all, and a wonderful New Year! :)
Monday, December 24, 2012
Goresan Rindu
Aku rindu.
Rindu yang tak terkira, yang bahkan seluruh bintang di angkasa tak sanggup mewakilkannya.
Rindu hangat kehadiranmu, namun justru dingin malam menyelimutiku.. rindu hingar bingar suaramu, karena kini yang terdengar hanya nyanyian sendu serangga.
Nyanyian sendu yang menyayat hati seperti rindu ini.
![]()
Aaahh.. apa gerangan yang sedang kau mimpikan saat ini, kasih?
Ada kah bayang wajahku hiasi bunga tidurmu? Atau aromaku, yang mungkin dapat menenangkanmu? Atau mungkin hanya sekedar namaku kau sebut. .dalam ceritamu untuk Tuhan hari ini?
Yang ku tahu pasti, hati ini penuh oleh cinta untukmu, otak ini riuh oleh teriakan yang tak henti menyerukan namamu, dan senyum yang mengembang terus menerus hanya dengan membayangkan wajahmu.. bahkan indah, rasa menyiksa di dada ini akibat merindukanmu.
Aku tak sabar menunggu kehadiran burung pagi nanti, untuk sampaikan rinduku padamu, dan berharap ia akan terbang menghampirimu, menyuarakan kicauan rindu itu.
Sungguh aku rindu, kasih..
Jakarta, 24 Desember 2012
Rindu yang tak terkira, yang bahkan seluruh bintang di angkasa tak sanggup mewakilkannya.
Rindu hangat kehadiranmu, namun justru dingin malam menyelimutiku.. rindu hingar bingar suaramu, karena kini yang terdengar hanya nyanyian sendu serangga.
Nyanyian sendu yang menyayat hati seperti rindu ini.
Aaahh.. apa gerangan yang sedang kau mimpikan saat ini, kasih?
Ada kah bayang wajahku hiasi bunga tidurmu? Atau aromaku, yang mungkin dapat menenangkanmu? Atau mungkin hanya sekedar namaku kau sebut. .dalam ceritamu untuk Tuhan hari ini?
Yang ku tahu pasti, hati ini penuh oleh cinta untukmu, otak ini riuh oleh teriakan yang tak henti menyerukan namamu, dan senyum yang mengembang terus menerus hanya dengan membayangkan wajahmu.. bahkan indah, rasa menyiksa di dada ini akibat merindukanmu.
Aku tak sabar menunggu kehadiran burung pagi nanti, untuk sampaikan rinduku padamu, dan berharap ia akan terbang menghampirimu, menyuarakan kicauan rindu itu.
Sungguh aku rindu, kasih..
Jakarta, 24 Desember 2012
Saturday, December 22, 2012
Malam Tujuhbelas Desember
Malam ini, di Tujuhbelas Desember
dihiasi sinar lampu remang-remang, ditengah keheningan ruangan kubus berpintu ini.
Kita berbaring, berdua. .bercinta dalam kesunyian.
Kau tatap lekat mataku dengan mata tajammu.
Kau sentuh wajahku, perlahan...
Kau pejamkan matamu, dan larut pada suasana. Menikmati setiap ujung jarimu menyentuh tiap titik di wajahku.
Aku pun pejamkan mataku, tenggelam dalam panas sentuhanmu.
Menikmati tiap detik, menikmati tiap belaian.
Perlahan kau sentuh bibirku dengan bibirmu
Lembut, hangat, basah...sungguh rasa yang memabukkan.
Dunia seakan berhenti berputar, jam tanganmu pun sunyi seperti berhenti berdetak.
Kecupan manis yang begitu panjang, hanya ditemani degup jantung kita yang tak mau melambat.
Lambat, semua terasa berjalan begitu lambat, tak seperti degup jantung ini.
Dapat kurasakan manis tiap senti dari bibirmu, geli dan tajam dari tiap helai kumismu, dan hangat dari tiap hembusan nafasmu..
Indah.
Perlahan kau jauhkan bibirmu dari bibirku yang seakan tak mau lepas.
Kau tatap lekat lagi mataku, dan perlahan kau bisikkan
Air mata yang turut menikmati,
saat kita bercinta dalam kesunyian...
(17 Desember 2012, 22.15)
dihiasi sinar lampu remang-remang, ditengah keheningan ruangan kubus berpintu ini.
Kita berbaring, berdua. .bercinta dalam kesunyian.
Kau tatap lekat mataku dengan mata tajammu.
Kau sentuh wajahku, perlahan...
Kau pejamkan matamu, dan larut pada suasana. Menikmati setiap ujung jarimu menyentuh tiap titik di wajahku.
Aku pun pejamkan mataku, tenggelam dalam panas sentuhanmu.
Menikmati tiap detik, menikmati tiap belaian.
Perlahan kau sentuh bibirku dengan bibirmu
Lembut, hangat, basah...sungguh rasa yang memabukkan.
Dunia seakan berhenti berputar, jam tanganmu pun sunyi seperti berhenti berdetak.
Kecupan manis yang begitu panjang, hanya ditemani degup jantung kita yang tak mau melambat.
Lambat, semua terasa berjalan begitu lambat, tak seperti degup jantung ini.
Dapat kurasakan manis tiap senti dari bibirmu, geli dan tajam dari tiap helai kumismu, dan hangat dari tiap hembusan nafasmu..
Indah.
Perlahan kau jauhkan bibirmu dari bibirku yang seakan tak mau lepas.
Kau tatap lekat lagi mataku, dan perlahan kau bisikkan
"Sekali lagi, selamat ulang tahun, sayang.."Setetes air mata keluar perlahan dari sudut mataku.
Air mata yang turut menikmati,
saat kita bercinta dalam kesunyian...
(17 Desember 2012, 22.15)
Subscribe to:
Posts (Atom)